Selasa, 28 April 2015

Tugas Matakuliah Filologi







TUGAS MATAKULIAH FILOLOGI

ANALISIS NASKAH MELAYU RIAU
“LANCANG KUNING”
BERDASARKAN TEORI STRUKTURALISME


                                                                                    



NAMA                 : FARIZAN
N I M                   : 2014940007




PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
UNIVERSITAS DR. SOETOMO
SURABAYA
2015




ANALISIS NASKAH MELAYU
“LANCANG KUNING”
BERDASARKAN TEORI STRUKTURALISME

I.                   PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
         Dalam ilmu filologi, naskah merupakan objek pengkajian utama. Naskah ini berbentuk karya (tulisan) yang merupakan salah satu peninggalan kongret msa silam suatu bangsa. Teks yang tertuang di dalam naskah diposisikan sebagai bahan analisis dengan tujuan untuk mengungkapkan produk masa lampau yang berupa karya (tulisan), mengungkapkan fungsi karya tulisan itu dalam masyarakat penghasil atau ahli waris karya itu dan dalam masyarakat masa kini, serta mengungkapkan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam karya. Secara khusus tujuan studi filologi adalah mengungkapkan sejarah perkembangan teks, mengungkapkan sambutan penerima teks, dan menyajikan suntingan teks dalam bentuk yang dapat dibaca oleh masyarakat masa kini.
Banyaknya naskah peninggalan dari budaya masa lampau Nusantara namun sediktnya filologi yang mampu mengkaji teks naskah-naskah itu saat ini menjadi permasalahan dalam mengungkapkan tujuan-tujuan dari studi filologi itu sendiri. Oleh karena itu, perlu adanya pembelajaran untuk mengkaji teks dan naskah sehingga diharapkan adanya ketertarikan untuk terus mengkaji teks dan naskah yang ada. Meskipun dalam pengkajian ini haya sebatas analisis teks semata. Tetapi, paling tidak telah ada usaha untuk mengkaji teks secara sederhana.
Pengkajian filologi tidak terlepas dari metode-metode yang terus berkembang. Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah dengan teori-teori sastra. Adapun dalam makalah ini, metode pengkajian naskah adalah dengan sastra yang menggunakan teori strukturalisme, yaitu salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur yang membangun sebuah karya sastra yang bersangkutan.
Naskah yang dianalisis dalam makalah ini adalah naskah yang tumbuh dalam masyarakat Melayu. Artinya naskah yang dimaksud berupa karya sastra yang tertulis dengan Arab-Melayu. Dengan huruf “Arab-Melayu” dimaksudkan huruf Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu. Naskah ini berjudul “Lancang Kuning”.
Naskah ini ditemukan penulis terdapat dalam sebuah buku pelajaran Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Kundur Barat, Karimun, Kepulauan Riau. Meskipun naskah ini terbilang muda, tetapi teks yang terdapat di dalamnya merupakan teks yang sudah tua. Cerita ini dahulu sering disampikan secara lisan, kemudian mulai dituliskan sehingga dapat diajarkan pada siswa untuk tetap mempertahankan kabudayaan masa lampau. Selain siswa dapat mempelajari tulisannya, siswa juga dapat mengenal sejarah yang terkandung di dalamnya.

B.        Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat kita ketahui bahwa sedikit sekali orang-orang yang ingin menganalisis naskah untuk mengungkap khasanah kebudayaan masa lampau. Oleh sebab itu penulis ingin menganalisis naskah Melayu yang berjudul “Lancang Kuning” ini secara sederhana. Adapun metode analisis yang digunakan adalah metodependekatan strukturalisme.

C.        Landasan Teoritis
TEORI STRUKTURALISME
Pendekatan struktural dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan Strukturalisme Praha. Ia mendapat pengaruh langsung dari Saussure yang mengubah studi linguistik dari pendekatan diakronim menjadi sinkronik. Studi linguistik tidak lagi ditekankan pada sejarah perkembangannya, melainkan hubungan antarunsurnya. Masalah unsur dan hubungan antarunsur merupakan hal yang penting dalam pendekatan ini. Unsur bahasa misalnya, unsur fonologi, unsur morfologi dan sintaksis, maka dalam studi linguistik pun dikenal adanya studi fonetik, fonemil, morfologi dan sintaksis. (Nurgiyantoro, 2010:36).
Sebuah karya sastra, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunnya. Disatu pihak, Abrams (dikutip Nurgiayntoro, 2010:36) karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, pengeseran, dan gambaran semuabahan dan bagian yang menjadi komp[onennya serta bersama membentuk kebulatan yang indah. Sementara di pihak lain struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian hubungan antarunsur (intrinsik) yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh.
Analisis struktural karya sastra dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsiknya. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokok, latar, dll. Setelah itu, kaitkan unsur satu dengan unsur yang lain sehingga membentuk suatu kepaduan dalam karya sastra. Dengan demikian, pada prinsipnya kajian strukturalisme bertujuan untuk memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antarunsur intrinsik yang menunjang sebuah karya sastra sehingga membentuk kepaduan yang menyeluruh.

II.                PEMBAHASAN
A.          Transliterasi Naskah Melayu “Lancang Kuning” ke dalam Aksara Bahasa Indonesia.
Lancang adalah sebuah perahu dengan ukuran yang berbeda-beda, karena ada yang kecil dan ada pula yang besar, yang jelas lancang adalah alat perhubungan air pada masa lalu. Dalam masyrakat Riau lebih dikenal dengan Lancang Kuning yang merupakan suatu lambang kebesaran daerah Riau. Karena itu Lancang Kuning ditetapkan menjadi lambang dan nyayian daerah Riau.
Adapun cerita Lancang Kuning adalah berasal dari sebuah kerajaan yang terdapat di Bukit Batu, wilayah Kabupaten Bengkalis. Kerajaan ini diperintah oleh raja yang bernama Datuk Laksmana Perkasa Alam serta dibantu oleh dua orang panglima yaitu Panglima Umar dan Panglima Hasan. Panglima Umar adalah seorang panglima yang dipercaya oleh Datuk Laksmana Perkasa untuk menyelesaikan sesuatu jika terjadi persoalan dalam kerajaan. Umpamanya jika terjadi perampokan di perairan, setiap tugas dapat diselesaikan dengan baik.
Pada suatu hari Panglima Umar menghadap Datuk Laksmana untuk menyampaikan hasrat hati mempersunting Zubaidah, seorang gadis negeri itu. Permohonan Umar disambut dengan baik oleh Datuk Laksmana. Dengan persetujuan Datuk Laksmana dilangsungkan pernikahan dan tanda kegembiraan diadakan pesta dan keramaian besar-besaran.
Rupanya kepercayaan yang diberikan dan perkawinan Umar dengan Zubaidah menimbulkan rasa tidak senang dan timbul dendam bagi Panglima Hasan. Hal ini timbul karena Panglima Hasan juga simpati dan mencintai Zubaidah yang telah didahului Panglima Umar.
Untuk melepas rasa sakit hati Panglima Hasan mencari akal bagaimana, agar Zubaidah dapat dimilikinya, maka dengan akal busuknya  Panglima Hasan menyuruh Domo menyampaikan kepada Datuk bahwa dia bermimpi agar Datuk Laksmana membuat Lancang Kuning untuk mengamankan semua perairan dari lanun. Apa yang disampaikan Pawang Domo diterima oleh Datuk Laksmana, sehingga Lancang Kuning dikerjakan siang malam. Setelah Lancang Kuning hampir selesai tersebar berita bahwa Batin Sanggoro telah melarang para pelaut untuk mencari ikan di Tanjung Jati.
Dengan adanya berita ini Datuk Laksmana memerintahkan agar Panglima Umar berangkat dan menemui Batin Sanggoro, sungguh berat hati Panglima untuk berangkat karena istrinya sedang hamil tua dan tak lama lagi akan melahirkan, akan tetapi karena tugas yang sangat penting, semua perasaan itu ditahan, demi kerajaan yang tercinta.
Setelah berlayar beberapa hari, sampailah Panglima Umar kepada Batin Sanggoro dan diceritakan semua berita yang tersebar di Bukit Batu. Mendengar cerita itu Batin Sanggoro terkejut, karena selama ini dia tidak pernah melarang nelayan Bukit Batu menangkap ikan di Tanjung Jati. Mendengar penjelasan Batin Sanggoro, Panglima Umar termenung dan berpikir, apa gerangan yang terjadi di balik peristiwa ini? Melihat keadaan ini lalu Batin Sanggoro menganjurkan agar cerita ini diselidiki dari mana asal mulanya, dan diselidiki sewaktu perjalanan pulang.
Rupanya apa yang disampaikan Batin Sanggoro dituruti Panglima Umar, sewaktu perjalanan pulang Panglima Umar berkeliling karena mencari siapa yang membuat berita itu, sehingga tidak dirasakan bahwa perjalanan sudah satu bulan.
Malam ini tepat lima belas hari bulan purnama. Malam ini Lancang Kuning akan diluncurkan ke laut. Di balai-balai telah banyak awak kerajaan dan penduduk negeri untuk menyaksikan peluncuran Lancang Kuning tersebut. Bermacam-macam hiburan daerah dipertunjukkan. Semua penduduk negeri bergembira kecuali Zubaidah, karena suaminya Panglima Umar sudah satu purnama pergi dan sampai saat ini belum juga kembali, dan karena itu Zubaidah tidak pergi menghadiri acara peluncuran Lancang Kuning ke laut pada malam itu.
Setelah semua keperluan peluncuran Lancang Kuning disiapkan Pawang Domo memberi petunjuk kepada Datuk Laksmana. Acara peluncuran diawali dengan tepung tawar pada dinding Lancang Kuning kemudian dilanjutkan dengan pengasapan dan barulah semua yang hadir diperintahkan supaya berdiri di samping Lancang Kuning dan semua bunyi-bunyian dibunyikan. Dan semua yang telah memegang Lancang Kuning mendorong, tetapi alangkah anehnya, Lancang Kuning tersebut tiak bergerak sedikitpun. Hal ini dilakukan berulang-ulang bahkan tenaga sudah ditambah, namun Lancang Kuning tidak juga bergerak. Hadirin yang hadir merasa heran dan bertanya-tanya, muka Pawang Domo merah padam.
Pawang Domo segera bersembah kepada Datuk Laksmana dan berkata “ampun tuanku yang mulia! Rupanya Lancang Kuning tidak bisa diluncurkan jika... jika apa Wak Domo? Kata Datuk Laksmana, katakanlah! Jika Lancang Kuning ingin juga diluncurkan maka harus ada korban. Korban berapa ekor kerbau yang diperlukan Wak Domo? Tuanku yang mulia! Bukan kerbau”. Pawang Domo menghampiri Datuk Laksamana dan membisikkan bahwa korban yang diperlukan adalah perempuan hamil sulung. Datuk Laksmana tertunduk dan termenung serta berkata kepada Pawang Domo bahwa tidak mungkin itu dilakukan, maka Datuk Laksmana menerintahkan agar peluncuran Lancang Kuning diundurkan saja.
Setelah sebagian orang pualng, Panglima Hasan pergi ke rumah Zubaidah dan didapatinya Zubaidah sedang duduk termenung di depan pintu rumahnya. Zubaidah terkejut dengan kedatangan Panglima Hasan sembil barkata “mengapa lagi kau datang ke sini Panglima Hasan? Berkata Panglima Hasan, apa lagi yang kau tunggu Zubaidah? Suamimu tidak akan kembali lagi, karena itu bair aku yang akan menjadi ayah anakmu itu! Apa katamu panglima penghianat? Biar saya mati dari pada bersuamikan kamu! Jawab Panglima Hasan, jika kamu masih menolak permintaanku, kamu akan saya jadikan gilingan Lancang Kuning yang akan diluncurkan ke laut”.
Karena Zubaidah tetap menolak permintaan Panglima Hasan, makan Zubaidah ditarik dan matanya ditutup dengan bantuan pengawalnya, setelah sampai disekitar Lancang Kuning diluncurkan, Panglima Hasan mendorong tubuh Zubaidah ke bawah Lancang Kuning dan saat itu juga Panglima Hasan memerintahkan supaya Lancang Kuning didorong ke laut. Hanya didorong oleh beberapa orang saja Lancang Kuning itu meluncur dengan mulus.
Setelah Lancang Kuning sampai di laut tampaklah darah dan daging Zubaidah berserakan di tanah dan ketika itu turunlah hujan serta petir dan angin kencang serta bertepatan waktu itu Panglima Umar merapat ke pelabuhan Bukit Batu.
Setelah perahu ditambatkan di pelabuhan Panglima Umar langsung ke rumah untuk melihat istrinya dan anaknya yang telah ditinggalkan selama satu purnama, tetapi setibanya di rumah, rumahnya kosong, dipanggilnya Zubaidah tetapi tidak ada jawaban. Hati Panglima Umar mulai gelisah, maka ia berangkat ke pelabuhan, di tengah perjalanan ia bertemu dengan Panglima Hasan, lalu Panglima Umar bertanya kepada Panglima Hasan, dimana gerangan istriku? Panglima Hasan menceritakan, Zubaidah telah dijadikan gilingan Lancang Kuning oleh Datuk Laksmana.
Mendengar cerita Panglima Hasan tersebut Panglima Umar langsung pergi ke tempat peluncuran Lancang Kuning, alangkah terkejut dan sedihnya hati Panglima Umar melihat tubuh istrinya itu, disapunya darah yang ada di tanah dan diusapkan ke muka serta berkata bahwa dia akan membalas atas kematian istrinya itu kepada Datuk Laksmana, tetapi baru saja dia berjalan dilihatnya Datuk Laksmanaberjalan kearahnya.
Setelah mereka bertemu Panglima Umar langsung menyerang Datuk Laksmana dengan pedang yang panjang ke perut Datuk Laksmana, tanpa ada pembicaraan sedikitpun, akhirnya Datuk Laksmana mati di tangan Panglima Umar, ketika itu juga datanglah Pawang Domo dan menceritakan semua kejadian yang sebenarnya, bahwa yang menjadikan Zubaidah untuk gilingan Lancang Kuning adalah Panglima Hasan, tanpa mengulur waktu Panglima Umar pergi mencari Panglima Hasan.
Dari kejauhan Panglima Umar melihat Panglima Hasan sudah bersiap-siap untuk melarikan diri menuju Lancang Kuning tapi belum sempat melepaskan talinya Panglima Umar telah sampai, dengan pedang terhunus sambil berkata “nah...malam ini...engkau atau aku yang akan mati”. Dengan disaksikan penduduk mereka berkelahi di atas Lancang Kuning. Dan akhirnya Panglima Hasan dapat ditikam Panglima Umar dan matinya jatuh ke laut.
Waktu itu Panglima Umar melihat ke pantai dan berkata kepada orang yang berada di pantai bahwa ia telah membunuh Datuk Laksmana karena perbuatan Panglima Hasan dan Panglima Hasan pun sudah mati di tangannya, karena itu ia akan pergi dengan Lancang Kuning untuk selama-lamanya, dan ketika sampai di Tanjung Jati datanglah ombak besar dan angin topan sehingga Lancang Kuning tersebut karam dan ia bersama Lancang Kuning terkubur dalam laut Tanjung Jati serta kejayaan kerajaan negeri bukit batu berangsur-angsur mundur dan akhirnya tingal setumpuk rumah saja.




B.           Analisis Naskah Melayu “Lancang Kuning” berdasarkan Teori Strukturalisme
1.      Analisis Plot pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Plot atau alur cerita merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam sebuah karya sastra fiksi, bahkan tak sedikit orang menganggap plot unsur terpenting sebagai pembangun karya fiksi. Tinjauan struktural pun sering ditekankan pada pembahasan plot. Stanton (dikutip Nurgiyanto, 2010:113) Mengemukakan bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu menyebabkan terjadinya peristiwa lain. Plot ini dimanifestasikan lewat perbuatan, tingkah laku dan sikap-sikap tokoh utama cerita.
Peristiwa demi peristiwa yang ditampilkan yang hanya mendasarkan pada urutan waktu belum dapat dikatakan plot. Agar menjadi sebuah plot, peristiwa-peristiwa tersebut harus disiasati secara kreatif, sehingga menghasilkan sesuatu yang menarik dan indah. Abrams (dikutip Nurgiyanto, 2010:113) yang menyetujui adanya perbedaan cerita dengan plot, mengemukakan bahwa plot sebuah karya fiksi merupakan struktur peristiwa-peristiwa, yaitu sebagaimana terlihat dalam pengurutan dan penyajian berbagai peristiwa tersebut untuk mencapai efek emosional dan efek artistik tertentu.
Dalam teks “Lancang Kuning” ini plot yang sangat menonjol adalah ketika Panglima Hasan menjadikan Zubaidah sebagai gilingan Lancang Kuning dan dia mengatakan kepada Panglima Umar bahwa Datuk Laksmana yang melakukannya, menyebabkan Datuk Laksmana terbunuh di tangan Panglima Umar tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu. Kemudian berita itu diluruskan oleh Pawang Domo sehingga diketahuilah bahwa pelaku sebenarnya adalah Panglima Hasan. Hal ini kembali menyebebkan terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh Panglima Umar terhadap Panglima Hasan di atas Lancang Kuning.
Untuk lebih jelas mengenai plot yang terdapat pada teks yang berjudul “Lancang Kuning” ini, dapat kita urut peristiwa, konflik dan klimaks sebagai berikut.
a.       Peristiwa
Sejauh ini kita sering mendengar kara peristiwa maupun kejadian disebut-sebut oleh banyak orang dalam pembicaraan tentang karya fiksi, namun belum diketahui secara jelas apa sebenarnya peristiwa itu. Dalam berbagao literatur berbahasa Inggris sering ditemukan penggunaan istilah action (aksi, tindakan) atau event  (peristiwa, kejadian) secara bersama atau bergantian, walau sebenarnya kedua istilah itu menyaran pada dua hal yang berbeda. Action merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan oleh tokoh manusia, misalnya memukul dan memarahi. Dipihak lain, event lebih luas cakupannya menyaran pada sesuatu yang dilakukan dan atau dialami oleh manusia yang terjadi diluar aktivitas manusia, misalnya perstiwa alam seperti banjir dan tanah longsor. Dalam penulisan ini, kedua hal itu disederhanakan menjadi peristiwa atau kejadian. Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Luxemburg dikutip Nurgiyantoro, 2010:117).
Peristiwa yang terjadi dalam teks “Lancang Kuning” ada enam, dimulai dari niat Panglima Umar yang hendak mempersunting Zubaidah, seorang putri raja di daerah Bukit Batu, wilayah Kabupaten Bengkalis, pada masa lampau. Suntingan Panglima Umar terhadap Zubaidah diterima dan dilangsungkan pesta pernikahan secara besar-besaran. Peristiwa kemudian beralih kepada perasaan Panglima Hasan yang terluka dan sakit hati karena niatnya telah didahulukan oleh Panglima Umar. Dari rasa sakit hatinya itu, muncul niat jahat Panglima Hasan dengan menyiarkan kabar bahwa Batin Sanggoro telah melarang para pelaut untuk mencari ikan di Tanjung Jati. Kemudian peristiwa beralih pada Batin Sanggoro yang tidak mengakui kebenaran berita itu setelah ditanyakan oleh Panglima Umar. Sanggoro meminta Panglima Umar mencari kebenaran berita itu, dari mana asal mulanya. Perjalanan Panglima Umar mencari kebenaran berita itu berlangsung selama sebulan. Selama itu pula ia meninggalkan Zubaidah yang sedang hamil tua.
Di samping peristiwa itu, juga terdapat peristiwa lain yang dialami oleh Datuk Laksmana dan masyarakat Bukit Batu. Ketika Datuk Laksmana mendapat berita dari Pawang Domo untuk membuat perahu yang digunakan untuk mengusir para lanun dari perairan Bukit Batu, maka perahu yang diberi nama Lancang Kuning itu dikerjakan siang dan malam. Tetapi ketika Lancang Kuning sudah selesai dikerjakan dan hendak diluncurkan ke laut melalui berbagai ritual, Lancang Kuning tetap tidak mau meluncur ke laut karena membutuhkan korban dari seorang wanita yang sedang hamil sulung. Peristiwa beranjak pada perbuatan Panglima Hasan yang keinginannya untuk menjadi suami Zubaidah ditolak oleh Zubaidah, kemudian menjadiakn Zubaidah sebagai korban untuk meluncurkan Lancang Kuning ke laut. Sesaan setelah kejadian itu, Panglima Umar kembali ke Bukit Batu dan mendapat kabar dari Panglima Hasan bahwa istrinya delah dijadikan gilingan Lancang Kuning oleh Datuk Laksmana. Kemudian peristiwa beranjak pada peristiwa pembunuhan Datuk Laksmana dan Panglima Hasan oleh Panglima Umar. Sementara peristiwa akhir dari kisah kerajaan Bukit Batu ini ditandai dengan kepergian Panglima Umar berlayar dengan Lancang Kuning dan tenggelam di perairan Tanjung Jati, serta mengakibatkan mundurnya kerajaan Bukit Batu.
b.      Konflik
Konflik juga termasuk salah satu unsur yang penting dalam sebuah plot. Peristiwa yang terjadi berupa peristiwa yang fungsional, utama, atau kernel yang sangat esensial dalam pengembangan sebuah plot. Konflik menyaran pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita, yang jika tokoh-tokoh itu dapat memilih, ia memilih peristiwa itu tidak akan menimpa dirinya (Meredith & Fitzgerald dikutiup Nurgiantoro, 2010:122). Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan (Wellek & Warren dikutip  Nurgiantoro, 2010:122). Dengan demikian, konflik menyaran pada konotasi yang negatif, sesuatu yang tidak menyenangkan. Peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, bahkan kinflik pun hakikatnya merupakan sebuah peristiwa. Adanya peristiwa tertentu dapat menimbulkan konflik. Konflik demi konfil yang disusul peristiwa demi peristiwa pada akhirnya dapat menyebabkan konfik semakin meningkat dan mencapai klimaks.
Konflik-konflik yang terjadi dalam teks “Lancang Kuning” mulai muncul ketika Zubaidah dijadikan gilingan perahu Lancang Kuning oleh Panglima Hasan. Hal ini terjadi akibat penolakan Zubaidah terhadap Panglima Hasan yang ingin menjadi Zubaidah dengan alasan bahwa Panglima Umar takkan pernah kembali lagi. Zubaidah menolak keras permintaan Panglima Hasan dan menyebabkan ia diseret ke pantai untuk dijadikan gilingan Lancang Kuining. Zubaidah yang dijadikan gilingan Lancang Kuning meninggal dengan mengenaskan. Daging dan darahnya berserakan di pasir pantai. Seketika turun hujan dan serentak dengan kepulangan Panglima Umar yang sudah merapat di pelabuhan Bukit Batu. Panglima Umar yang tidak menemukan istrinya di rumah menemui Panglima Hasan secara tak sengaja. Pada saat itulah Panglima Hasan mengatakan bahwa istrinya dijadikan gilingan Lancang Kuning oleh Datuk Laksmana. Perkataan Panglima Hasan mengundang amarah Panglima Umar yang menyebabkan kematian Datuk Laksmana.
Dapat kita lihat dari penjelasan di atas bahwa konflik muncul secara berurut. Konflik pembunuhan Datuk Laksmana oleh Panglima Umar terjadi karena peristiwa yang dipicu oleh Panglima Hasan yang menjadikan Zubaidah sebagai gilingan perahu Lancang Kuning dan memfitnah Datuk Laksmana. Dari konfik nini dapat kita ketahui karakter tokoh Panglima Hasan yang tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang telah ia lakukan. Pangima Hasan rela mengorbankan nyawa Datuk Laksmana untuk menutupi kesalahan dirinya dan pura-pura tidak tahu atas kejadian itu. Selai itu dapat juga kita lihat karakter tokoh Zubaidah yang rela mati demi mempertahankan kehormatan dirinya dan rumah tangganya yang sudah ia bangun bersama Panglima Umar. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara unsur-unsur intrinsik yang membangun sebuah karya fiksi. Unsur-unsur itu tidak dapat berdiri sendiri karena melalui salah satu unsur, kita dapat mengetahui unsur pendukung lainnya.
c.       Klimaks
Konflik dan klimaks merupakan unsur yang paling penting dalam struktur pembangun plot. Konflik demi konflik yang terjadi telah mencapai titik puncak dapat menyebabkan terjadinya klimaks (puncak konflik). Dengan demikian terdapat keterkaitan yang erat antara kinflik dan klimaks. Klimaks hanya akan terjadi jika terdapat konflik yang mendukungnya. Namun tidak semua konflik dapat mencapai klimaks. Klimaks, menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2010:127) adalah saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya. Klimaks merupakan kejaddian puncak yang menarik dan menegangkan dan biasanya tidak ada lagi kejadian lain yang sama dengan klimak. Kalaupun ada, itu hanyalah kejadian/konflik ringan yang masih bisa diatasi sebagai peregangan untuk menuju penyelesaian atau akhir dari sebuah cerita.
Klimaks dalam teks Melayu “Lancang Kuning” terjadi ketika konflik-konflik yang diawali oleh Panglima Hasan ini sudah semakin meruncing. Jika meninjau kembali pembahasan penulis mengenai konflik-konflik yang terjadi dalam teks “Lancang Kuning”, dapat kita lihat bahwa terbunuhnya Datuk Laksmana merupakan konflik penegangan tetapi belum mencapai klimaks. Klimaks terjadi ketika Pawang Domo yang melihat Datuk Laksmana sudah terbunuh mengatakan kepada Panglima Umar mengenai hal yang sebenarnya, yaitu Panglima Hasan lah yang menjadikan Zubaidah sebagai gilingan perahu Lancang Kuning. Semakin beranglah Panglima Umar. Ia mencari Panglima Hasan dan menemukannya ketika Panglima Hasan hendak melarikan diri bersama Lancang Kuning. Tetapi usahanya sempat ditunda oleh Panglima Umar. Dengan sigap Panglima Umar naik ke Lancang Kuning dan bertarung dengan Panglima Hasan. Akhirnya pada pertarungan itu Panglima Hasan terbunuh dan mayatnya jatuh ke laut.
Melalui konflik dan klimaks dapat kita lihat bahwa Panglima Umar merupakan seseorang yang tidak sabar dan terlalu cepat menyimpulkan suatu permasalahan. Ia membunuh Datuk Laksmana tanpa bertanya terlebih dahulu mengenai kebenaran meninggalnya Zubaidah. Ia lebih memilih tak lagi bicara dan langsung membunuh Datuk Laksmana sehingga Datuk Laksmana yang tidak bersalah ikut menjadi korban amarahnya.
Dari penjelasan peristiwa, konflik dan klimaks dapat kita simpulkan bahwa plot yang terdapat dalam teks Melayu “Lancang Kuning” menggunakan plot lurus, yaitu plot yang peristiwa-peristiwa dan konflik-konfliknya terjadi secara kronologis dan dapat mudah diururt. Melalui plot juga dapat kita tentukan karakter tokoh Panglima Umar, Panglima Hasan dan Zubaidah.
2.      Analisis Tokoh pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Tokoh merupakan pelaku cerita. Istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku cerita. Tokoh cerita, menurut Abrams (dalam Nurgiantoro, 2010:165) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang didesktipsikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa antara seorang tokok dengan kualitas pribadinya erat berkaitan dengan penerimaan pembaca.
Tokoh yang terdapat dalam teks “Lancang Kuning” dibedakan berdasarkan penting tidaknya tokoh ada Zubaidah dan Panglima Hasan sebagai tokoh utama serta Panglima Umar, Datuk Laksmana dan pawang Domo sebagai tokoh tambahan. Dari penting tidaknya tokoh, perannya dominan karena sejak awal Panglima Hasan selalu memulai untuk menimbulkan sebuah peristiwa dan memunculkan konflik. Sementara Zubaidah adalah tokoh yang dijadikan korban dan merupakan salah satu penyebab munculnya konflik yang terjadi antara Panglima Hasan dan Panglima Umar. Dengan demikian, Panglima Hasan dan Zubaidah dapat disebut sebagai tokoh utama. Tanpa Panglima Hasan memunculkan peristiwa dan konflik maka cerita ini tidak akan menemukan klimaks. Begitupun Zubaidah, tanpa peran Zubaidah yang dijadikan korban untuk gilingan perhu Lancang Kuning, Panglima Umar tidak akan marah dan tidak akan membunuh Datuk Laksmana dan Panglima Hasan.
Sementara itu, tokoh tambahan dalam cerita ini adalah Panglima Umar, Datuk Laksmana dan Pawang Domo. Peran mereka tidak terlalu besar dalam cerita ini tapi cukup fungsional karena tanpa mereka tokoh Panglima Hasan hanya akan melakukan hal yang sia-sia. Jika Panglima Umar tidak ada, perbuatan Panglima Hasan tidak ada yang menentang dan Panglima Hasan tidak mendapatkan aksi balasan dari tokoh yang bertentangan dengannya. Hal yang sama juga berlaku pada Datuk Laksmana dan Pawang Domo. Masing-masing mereka haya dominan muncul pada proses peluncuran Lancang Kuning ke laut. Kemudian muncul kembali pada bagian akhir cerita ketika Datuk Laksmana muncul dan langsung dibunuh oleh Panglima Umar, sedangkan Pawang Domo muncul setelah kejadian terbunuhnya Datuk Laksmana.
Berdasarkan fungsi penampilan tokoh, tokoh dalam teks “Lancang Kuning” dapat dibagi menjadi tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh antagonis dalam teks ini adalah Panglima Hasan. Sangat jelas terlihat melalui percakapan tokoh dengan Zubaidah. Selain itu karakter tokoh dapat dilihat melalui tingkah laku tokoh yang bertanggung jawab menjadi salah satu indikator bahwa tokoh Panglima Hasan bukanlah seorang yang baik. Sementara itu, tokoh Panglima Umar, Datuk Laksmana, Pawang Domo, dan Zubaidah merupakan tokoh protagonis dalam certia ini. Tidak tampak perbuatan masing-masing tokoh untuk berbuat jahat. Tokoh Panglima Umar dinilai baik oleh penulis karena Panglima Umar bersedia melakukan perintah Datuk Laksmana untuk mencari kebenaran berita tentang larangan melaut di Tanjung Jati kepada Batin Sanggoro. Datuk Laksmana dinilai baik karena ia tidak ingin mengorbankan siapapun demi kelancaran peluncuran Lancang Kuning ke laut. Pawang Domo menunjukkan sikap baiknya dengan memberitahu hal yang sebenarnya terjadi kepada Zubaidah. Sedangkan Zubaidah dinilai sebagai tokoh protagonis karena ia berani mempertahankan kehormatan dirinya dan rumah tangganya dengan Panglima Umar yang juga diajarkan oleh agama islam.
Tokoh-tokoh ini dapat diketahui penggolongannya melalui dialog tokoh ataupun tingkah laku tokoh terhadap tokoh lain. Karakter tokoh juga dapat dilihat melalui peristiwa-peristiwa yang menimbulkan konflik-konflik yang terjadi dalam cerita. Ini membuktikan bahwa unsur tokoh dan plot memiliki katerkaitan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain, setiap unsur instrinsik yang membangun sebuah cerita tidak dapat berdiri sendiri.
3.      Analisis Latar pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Berbicara tentang sebuah karya sastra khususnya fiksi, akan berkaitan dengan latar yang mendukung tempat terjadinya peristiwa atau konflik dalam cerita. Sebuah karya fiksi tidak akan lengkap unsurnya tanpa ada latar yang menggambarkan tempat terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita. Layaknya cerita yang terjadi dalam kehidupan nyata, karya fiksi juga memerlukan latar sebagai ruang bagi tokoh untuk bernuat atau melakukan sesuatu. Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dikutip Nurgiantoro, 2010:216). Sementara itu, Stanton (dalam Nurgianto, 2010:216) mengelompokkan latar, bersama dengan tokoh dan plot, ke dalam fakta (cerita) sebab ketiga hal inilah yang akan dihadapi, dan dapat diimajinasi oleh pembaca secara faktual jika membaca cerita fiksi.
Latar fisik pada teks Melayu “Lancang Kuning” adalah Bukit Batu, daerah Kabupaten Bengkalis dan Tanjung Jati. Naskah ini tidak jauh berbeda dengan dengan cerita lisan masyarakat Riau yang menyebutkan bahwa Lancang Kuning memang terjadi di daerah Bukit Batu dan Lancang Kuning karam di perairan Tanjung Jati. Hal ini memperkuat teks yang terdapat dalam naskah melayu yang berjudul “Lancang Kuning” bahwa terdapat kerajaan di Bukit Batu pada masa lalu. Tetapi pada dasarnya cerita ini hanyalah fiktif pengarang yang tidak diketahui penulisnya. Penekanan unsur latar di Bukit Batu dapat dilihat pada peristiwa peluncuran Lancang Kuning ke laut serta sebagian besar kehidupan yang diceritakan dalam teks. Kemudian latar yang menunjukkan daerah Tanjung Jati terdapat pada peristiwa ketika Panglima Umar mendatangi Batin Sanggoro untuk menanyakan prihal kebenaran larangan untuk berlayar dan melaut di perairan Tanjung Jati.
Latar di Bukit Batu lebih dominan dijelaskan ketika Lancang Kuning hendak diluncurkan, yaitu di pantai Bukit Batu. Latar dipilih sebuah pantai karena peristiwa yang sedang terjadi adalah masyarakat bukit Batu hendak meluncurkan Lancang Kuning ke laut. Lancang Kuning merupakan nama sebuah perahu, sehingga latar yang dipilih adalah latar tempat di pantai.
Latar waktu tidak digambarkan dengan jelas dalam teks ini sehingga tidak dapat dijelaskan secara detil mengenai penggambaran latar waktu yang terdapat dalam cerita ini. Hanya saja latar waktu disebutkan ketika peluncuran Lancang Kuning ke laut dilakukan pada malam hari ketika tepat pada malam ke limabelas bulan purnama. Sementara untuk tahun terjadinya peristiwa itu tidak disebutkan.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan untuk menentukan latar terjadinya sebuah peristiwa, kita tetap harus memperhatikan peristiwa apa yang sedang terjadi dan berhubungan dengan latar itu, baik latar waktu maupun latar tempat.
4.      Analisis Sudut Pandang pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Membaca dua buah karya fiksi yang berbeda akan memungkinkan kita menghadapi dua person yang berbeda pula. Person itu dari satu sisi dapat dipandang sebagai tokoh cerita, di sisi tertentu, dapat juga dipandang sebagao pencerita. Sudut pandang menyaran pada sebuah cerita dilukiskan. Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2010:248) mengatakan bahwa sudut pandang merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.
Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam teks Melayu “Lancang Kuning” ini berupa sudut pandang person ketiga serba tahu, gaya “dia”. Person ketiga ini adalah orang berada di luar cerita tapi serba mengetahui kejadian yang terjadi disetiap bagian cerita. Hal ini dapat diketahui dengan mudah karena pengarang menggambarkan tokoh dengan menyebutkan nama tokoh. Dapat kita lihat pada kutipan cerita di bawah ini. Malam ini tepat lima belas hari bulan purnama. Malam itu Lancang Kuning akan diluncurkan ke laut, di balai-balai telah banyak awak kerajaan dan penduduk negeri untuk menyaksikan peluncuran Lancang Kuning tersebut. Bermacam-macam hiburan daerah dipertunjukkan. Semua penduduk negeri bergembira kecuali Zubaidah, karena suaminya Panglima Umar sudah satu bulan pergi dan sampai saat ini belum juga kembali dan karena itu ia tidak pergi menghadiri acara peluncuran Lancang Kuning ke laut pada malam itu.
Dari kutipan di atas dapat dilihat secara jelas pengarang mengetahui kejadian yang bersifat fisik atau pun keadaan batih yang sedang dirasakan/dialami oleh tokoh. Seperti yang terdapat dalam cerita, pengarang mampu menggambarkan kegembiraan masyarakat Bukit Batu karena diadakannya acara peluncuran Lancang Kuning. Semua orang berhembira kecuali Zubaidah karena ia sedang mananti kepulangan suaminya yang sudah sebulan meninggalkannya. Rasa sedih itu juga yang menyebabkan ia tidak ingin menghadiri acara yang sedang digelar tersebut.
Dapat disimpulkan, untuk menentukan sudut pandang kita masih membutuhkan unsur lain, mislnya plot. Plot perlu diperhatikan dalam menentukan sudut pandang yaitu menunjuk pada peristiwa apa yang sedang terjadi. Atau dapat juga kita perhatikan melalui penceritaan nyata yang dilakukan oleh pengarang untuk melukiskan cerita yang ditulisnya, misalnya melalui tokoh. Sudut pandang juga dapat dicermati melalui peran-peran tokoh yang terdapat dalam cerita sehingga cerita tersebut menapakkan sebuah kepaduan.
5.      Analisis Tema pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Berbicara karya sastra fiksi tidak lengkap jika tidak berbicara tentang tema. Stanton dan Kenny (dikutip Nurgiantoro, 2010:66) mengatakan bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Tema ini menjadi landas tumpu bagi pengarang untuk membuat sebuah cerita. Tanpa tema, cerita tidak akan dapat dilukiskan dengan baik karena tidak terdapat kejelasan konsep bagi pengarang untuk melukiskan cerita. Dari sbuah tema, pengarang dapat menentukan plot, tokoh cerita yang mendukung, latar yang mendukung terjadinya sebuah peristiwa atau konflik, maupun amanat yang ingin disampaikan.
Tema yang terdapat dalam teks “Lancang Kuning” berkisar pada sebuah kisah cinta dua panglima kerajaan Bukit Batu terhadap Zubaidah, seorang putri raja Kerajaan Bukit Batu, yang berujung dengan petaka dan kemunduran Kerajaan Bukit Batu. Cerita digambarkan berawal dari suntingan Panglima Umar kepada Zubaidah yang menyebabkan Panglima Hasan merasa sakit hati karena telah didahului oleh Panglima Umar. Rasa sakit hatinya itu ia lancarkan dengan melakukan rencana licik untuk memiliki Zubaidah. Tetapi hampir memasuki bagian klimaks, konflik terjadi ketika Panglima Hasan membunuh Zubaidah dengan dengan menjadikannya korban untuk gilingan  Lancang Kuning meluncur ke laut. Konflik ini memicu amarah Panglima Umar yang membabi buta sehingga menyebabkan Datuk Laksmana ikut terbunuh walaupun ia tak bersalah.
Penyimpulan sebuah tema dalam karya fiksi dapat dilihat dari setiap konflik yang terjadi. Dapat juga dari sebab-sebab yang mendukung terjadinya konflik tersebut. Semua dapat diurut sehingga menghasilkan satu ide. Ide yang satu dan padu itulah yang kemudian disimpulkan sebagai tema dalam sebuah karya sastra. Selain peristiwa dan konflik yang mendukung tema, tokoh dan latar juga mendukung tema. Misalnya pada teks yang berjudul “Lancang Kuning” ini juga menggambarkan latar tempat di pantai. Wajar saja tempat dipilih pantai, karena Lancang adalah sebuah parahu dalam masyarakat daerah Riau.
6.      Analisis Amanat/Pesan Moral pada Teks Melayu “Lancang Kuning”
Amanat/pesan moral menurut Kenny (dikutip Nurgiyantoro, 2010:321) dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Amanat biasanya disampaikan melalui dikap tokoh-tokoh yang mendukung jalan cerita.
Pada teks Melayu “Lancang Kuning” ini pengarang ingin menyampaikan amanat dari masing-masing tokoh cerita. Misalnya Panglima Umar, melalui sikapnya yang terlalu cepat mengambil keputusan dan tidak sabar mengakibatkan Datuk Laksmana ikut terbunuh sementara Datuk Laksmana bukanlah orang yang harus disalahkan atas kematian Zubaidah, pengarang ingin menyampaikan bahwa pembaca jangan terlalu cepat mengambil suatu keputusan. Apalagi pengambilan keputusan itu dilakukan dalam keadaan marah. Keputusan yang diambil tidak akan baik. Seharusnya sebelum melakukan sesuatu kita berpikir dengan cermat segala dampak yang mungkin timbul jika kita melakukannya. Atau jika dalam permasalahan, ada baiknya permasalahan itu dibicarakan dengan baik-baik sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa berakibat buruk.
Pesan moral lainnya yang ingin disampaikan oleh pengarang terdapat dalam sikap tokoh Panglima Hasan. Melalui Panglima Hasan pengarang ingin menyampaikan bahwa sikap tideak bertanggung jawab dapat mengakibatkan sesuatu yang lebih buruk dari pada perkiraan kita. Apalagi Panglima Hasan itu seorang panglima yang sudah semestinya memiliki rasa tanggung jawab terhadap perbuatan yang sudah dilakukan. Dalam menghadapi kehidupan, kita tidak dapat melarikan diri dari kanyataan. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap bertanggung jawab untuk menghadapi kehisupan ini. Entah itu yang sifatnya besar maupun kecil terhadap kehidupan yang sedang kita jalani ini.
Amanat yang paling berhubungan dengan tema adalah janganlah kita menanamkan rasa yang berlebihan kepada seseorang. Apalagi cinta itu tak kesampaian akan megakibatkan rasa sakit hati yang dalam. Apalagi Rasulullah telah mengajarkan kita untuk tidak terlalu sayang atau benci terhadap seseorang karena bisa jadi suatu saat perasaan kita menjadi terbalik dari perasaan sebelumnya.

III.             PENUTUP
Kesimpulan
                        Melalui semua analisis yang dilakukan penulis terhadap teks Melayu yang berjudul “Lancang Kuning” dapat disimpulkan bahwa teks ini memiliki unsur-unsur intrinsik yang tidak dapat berdiri sendiri. Terdapat hubungan yang erat antara satu unsur dengan unsur yang lain. Unsur-unsur itu memiliki keterkaitan sehingga membentuk sebuah cerita yang padu dan menarik. Dapat kita perhatikan dari unsur Plot. Ternyata plot memiliki terkaitan secara langsung dengan unsur tokoh, latar maupun sudut pandang pengarang. Melalui plot, kita dapat menentukan karakter tokoh yang terdapat dalam cerita. Melalui plot juga kita dapat menentukan unsur latar yang digunakan pengarang sebagai tempat kejadian sebuah peristiwa atau konflik. Melalui plot juga dapat kita tentukan sudut pandang apa yang digunakan pengarang untuk melukiskan cerita yang dibuat.
                        Selain plot, tema juga berhubungan secara langsung dengan latar dan amanat. Latar tempat yang mendukung terjadinya peristiwa tidak dapat dikatakan tidak bahwa latar juga mendukung tema yang terdapat dalam sebuah cerita. Jika latar mendukung terjadinya sebuah peristiwa yang memunculkan konflik dan konflik mendukung tema yang dibuat, secara otomatis latar juga berarti berhubungan dengan tema sebuah karya fiksi. Intinya, setiap unsur instrinsik yang terdapat dalam sebuah karya sastra khususnya fiksi, tidak dapat berdiri sendiri. Setiap unsur itu saling menunjang dan mendukung unsur lain sehingga menghasilkan cerita yang padu dan menarik untuk dibaca.





















DAFTAR PUSTAKA

Nurgiantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Sudjiman, Panuti. 1995. Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Semi, Atar.1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.


























Kamis, 05 Februari 2015

NADA TAK BERIRAMA

NADA TAK BERIRAMA

Alunan nada tak berirama
Memukau pecahkan suasana
Getar jiwa kian terasa
Tak berdaya...
Luluhkan rasa...

Terdengar lembut alunan sendu
Nan begitu syahdu menyayat hati pilu
Aku tetap terpaku...
Malu untuk berseteru...

Kian larut alunan itu
Mematahkan malam kelabu
Hingga tak terhingga
Kian terluka...
Semakin terlena...

Darussalam, 31 Januari 2015
By... Farizan


Selasa, 27 Januari 2015

Kembalikan Hijauku

https://plus.google.com/108943361011097494620/posts/iiXLKcriDTr


Lomba Baca Puisi Penghijauan Kuala Selat-Kateman 2015

KEMBALIKAN HIJAUKU
Karya : Farizan

Deru angin menerpa tubuhku
Hingga mendorong lalu menusuk di relung jiwa
Engkau bahkan tidak mengerti juga
Ombak laut yang selalu pulang dan pergi
Sepertinya memberi tanda dan makna
Aku tetap berdiri di pantai ini
Sendiri...
Sehingga ku temukan apa yang ku inginkan

Pandanganku kini menerawang jauh
Melihat hijau yang telah memudar
Lihatlah hutan kita
Sedikit demi sedikit habis digerogoti
Oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab
Oleh orang-orang yang tidak memikirkan masa depan
Dibangun cerobong-cerobong asap pabrik
Dia hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli
Lalu apa yang kita dapat?
Polusi... Polusi... Polusi di sana sini

Hati ini terhenyuh, menjerit seraya berkata
Kembalikan hijauku

Muda tak selamanya muda
Hidup tak selamanya hidup
Dan pohonpun mulai berseru
Mereka meminta kawan
Mereka merintih kesepian
Tanpa ada yang mendengarkannya

Hati ini terhenyuh, menjerit seraya berkata
Kembalikan hijauku

Mari kita genggam bumi kita
Mari kita tanami bumi kita
Untuk kehidupan yang lebih baik
Satukan jemari
Beri yang lain pencerahan
Lindungi yang sudah merambah
Sisa akar-akar yang suram
Cukup tanam satu tunas satu hati
Dan untuk sebuah lautan hijau membentang

Selasa, 06 Januari 2015

Minggu, 07 Desember 2014

Realita Cinta

Inilah realita kehidupan beberapa tahun yang silam...

April kelabu, suram, hancur dan sirna 2009
Air mata...
bye bye cinta yang terabaikan.

Satria sebelum cahaya datang, tak nampak dan tak terlihat jelas dalam pandangan, ye kelabu, suram, hancur dan sirna.
Ku ratapi kisah ku dengan air mata, ku renungi kisah cinta ku dengan tangis sendu, hati ini memang terlalu sakit, karena cintanya...
Huuftess... menghela nafas panjang
Yaah, serpihan demi serpihan ku rasa begitu terasa hingga menggetarkan dada, kepingan-kepingan tentangnya ku ingat, semakin ku kenang, semakin aku hancur...!

Mmmmm...
Tapi mengapa...?
Sampai sekarang aku masih mencintainya...!
Pilur-pilur luka meleleh, harapan cinta tetap mengental,
Ku coba menahan isak tangis hingga sesak dan menghapus setiap tetesan air mata di pipi hingga sirna.

Namun mengapa...?
Luka dan sakit ini membuat aku semakin cinta!

Kapankah air mata ini berubah menjadi air mata yang bening, sebening salju dan tak akan keruh.
Kapankah derai tangisan ku terhenti dan menjadi setetes lalu terakhir.

Seharusnya aku tak perlu tangisi, harusnya aku kuat, harusnya aku bangkit, harusnya tak perlu ku pertaruhkan air mata ini. Hanya demi satu kenangan yang mungkin tidak begitu indah untuk di kenang di masa depan dan masa yang telah pergi, perlahan menjauh dan terus jauh dari hadapan...

Tapi mengapa..
Mengapa sampai sekarang aku belum bisa melupakannya, apa perlu seribu tahun lagi, mengapa terus jatuh tersungkur dan menumpahkan air mata yang perihkan hati ini.
Hati ku kini menjadi perasa, air mata ini jatuh, jatuh untuk cinta yang telah mengabaikan ku.

Mataku yang menjadi saksi bagaimana air mata ini jatuh untuknya.
Air mataku terus jatuh ..
Terlalu banyak dan berderai
Terlalu lama menetes dan terus menumpah membasahi pipi

Dan aku sendiri...
Bersama keluh kesah ku..
Yang tenggelam oleh suara tangis ku bersama serpihan hati yang akan ku bawa sampai aku mati...!

Rabu, 08 Oktober 2014

MANA MAK

22 Desember 2011 pukul 22:59
https://www.facebook.com/notes/izan-bahdin/mana-mak/10150428754656954

"MANA MAK..?" 
Jam 5.30 Petang
Mak berdiri di depan pintu. Wajah Mak kelihatan resah dan bimbang. Mak tengah tunggu ucu yang dari tengah hari tadi belom balik juga dari les dengan guru kelasnya. Memang sudah mejadi kebiasaan di sini, kalau anak sekolah dasar macam ucu tu, diharuskan mengikuti les tambahan dari guru kelasnya.

Saat itu Bapak baru balek dari kebunnya di "Teluk Bakau, Desa Rotan Semelur" di mana kampung halaman dan tempat kelahiran bapak.

Memang sudah menjadi rutinitas bapak sejak kami pindah dari desa itu ke kota kecamatan yaitu "Kecamatan Kateman, Sungai Guntung", beberapa taon yang lalu.

Tanpa ade basa-basi lagi bapak langsung menghampiri mak yang dari tadi berdiri di depan pintu rumah, entah sejak bile dan berape lame agaknye mak dah berdiri menunggu di situ.

Sepertinye  bapak dapat menebak dari raut wajah mak yang kelihatan resah dan bimbang, tebakan bapak pastilah kalau anak-anak mak belom balek semua ke rumah, sebab bapak tau betol sikap mak terhadap anak-anak mak.

Lalu bapak tanya Mak, “Abang Long ke mana..?”
Mak jawab, “Kan pegi merantau ke negara jiran”.
Bapak sengaja tanya Abang Long pada mak, Abang Long adalah anak paling tua, padahal bapak tau kalo abang long sejak delapan taon yang lalu pergi ke negara jiran dengan kawan-kawannya, bapak rase mak teringat dan memang sangat rindu dengan kepergian abang long itu. 

Sebab keberangkatan abang long memang tanpa izin dari mak dan bapak.


Bapak tanya Mak lagi, “Akak mana..?”
Mak jawab, “Ade, baru sudah mandi dan lagi tolong siapkan buat makan malam”.
Akak anak kedua dan satu-satunya anak perempuan di keluarga kami.


Bapak terus Tanya Mak, “Cik mana..?”
Mak Jawab, “Tu, lagi tutop semua tingkap atau jendela rumah”
Bapak masih penasaran sebenarnya ape yang membuat wajah mak resah dan bimbang, sementara cik anak ketiga sudah berade dirumah.

Bapak tanya Mak, “Andak mana..?”
Mak jawab, “Andak, tengah mandi, baru balek main dengan kawan-kawannya”.
Andak sebutan anak keempat dalam keluarga ini.

Bapak terus tanya lagi, “Ucu dah balik..?”
Mak dengan cepat menjawab, “Belum..! Patutnye jam segini ucu dah balik, Mungkin lagi asyik les kat rumah gurunye”. Mak berusaha menenangkan diri sendiri.
“Sekejap lagi kalau ucu tak balik juge kita pergi cari ucu”.

Ternyata bapak dah pon dapat jawaban atas penasarannye tadi, mak risau, mak juge resah dan bimbang karena ucu anak bungsu belom juge balek.

Dengan penuh keyakinan bapak berkata pada mak, "sudahlah, sekejab lagi balek lah tu, tak osah nak risau-risau, masuk dan tunggu kat dalam rumah je", mak pon serentak masuk ke dalam rumah mengikuti bapak.

Macam gitulah mak, Selalu mak jawab semua soalan bapak penuh yakin dan percaye diri. Tiap-tiap hari bapak bertanya soalan yang sama pade mak, tapi mak tetap saja menjawab penuh perhatian dan penuh keyakinan pula.

Mak ambil berat di mana anak-anak mak dan bagaimana keadaan anak-anak mak setiap masa dan setiap ketika, walau sebetolnye mak tak tau pasti kat mana anak-anak mak berada saat itu.

Memang sudah naluri seorang mak agaknya akan berbuat seperti itu, yang resah kalau anak-anak mak tak ade bersamenya dan selalu semangat menjawab semua soalan bapak atas anak-anaknya.


Lima Belas Tahun Kemudian
Jam 5.30 Petang

Hari ini memang tidak seperti hari-hari biasenya, yang mana rutinitas bapak selalu ke kabunnya, tetapi seharian ini bapak ikut gotong-royong di Masjid “Darussalam” bersame-same dengan jamaah yang lain, karena masjid di dekat rumah dalam pembangunan dan bapak pulaklah yang menjadi ketua panitia pembangunannya.

Bapak balik awal ke rumah hari ini. Baju bapak basah dan kotor, sebab hujan turun lebat sangat sejak tengah hari tadi dan belum juge berhenti.

Lalu Bapak bertanya, “Mana Mak..?”

Akak sedang membolak-belek baju yang baru saja siap di jahitnya. 
Memanglah akak pandai menjahit dan tak heran banyak juge jiran-jiran yang selalu upah menjahit baju dengan akak.
Akak terus jawab, “Tak tau...”.

Bapak  tanya pada Cik, “Mana Mak..?”

Cik yang tengah asyik nonton saluran salah satu tv siaran kesukaannya, seolah-olah tidak dapat diganggu same sekali dan cik pun dengan cepat menjawab, “Mana Cik Tau..!”

Bapak tak mau putus asa, tetap ingin tau sebenarnya di mana keberadaan mak, dan bapak pon bertanya kepada  Andak, “Mana Mak..?”

Bapak menunggu lama jawaban dari andak yang asyik membaca majalah remaja yang selalu ditunggu-tunggu dan dinanti setiap edisi terbitannya.

Bapak mengulangi sekali lagi soalannya kepada andak, "Mana Mak..?”
Lalu Andak menjawab, “Entah..!”

Andak terus membaca majalah tanpa menoleh kearah bapak sedikitpun.
Bapak hanya menghela nafas panjang dan terhenyuh hati bapak hingga pikiran bapak menjadi tidak tenteram atas semua jawaban yang diberikan anak-anak mak, ingin rasanye bapak marah saat itu, tapi bapak tak nak lakukan dan bapak tetap sabar dan terus bersabar.

Bapak tidak mahu tanya ucu yang sedang asyik menatap handphon mungkin lagi buka facebook, twitter atau apalah itu.

Bapak tahu dan bahkan bapak yakin betol yang bapak tidak akan mendapat jawaban yang bapak mau dari ucu.

Tidak ada siapa yang tahu di mana mak berada saat itu, bahkan mencari tau di mane mak.
Tidak ada siapa yang rase ingin tahu di mana mak atau tergerak hati nak tau di mane mak.
Mata dan hati anak-anak mak, kini tidak pada mak lagi, seperti mase anak-anak mak kecik dulu.
Hanya mata dan hati bapak yang selalu mencari-cari di mana mak dan di mana anak-anak mak.
Tidak ada satupon anak-anak mak yang tahu setiap kali bapak bertanya, "Mana Mak..?"

Dalam hening sunyi senyap tanpa ada kata, tiba-tiba ucu bersuara, “Mak ni dah senje-senje pon masih bejalan lagi..! Tak reti nak balik ke…?!!”

Tersentak hati Bapak mendengar kata-kata ucu itu.

Wajah bapak langsung berubah merah padam, bapak berusaha tetap menahan amarahnya, bapak cume merasa sedih, di dalam hati bapak menangis, kecewa dan entah apa lagi yang bapak rasakan ketika itu.

Dulu anak-anak mak merangkak dan berlari-lari mengejar menuju mak tanpa diminta atau disuruh, hanya ingin mendekap dan berpelukan di dalam pelukan mak, anak-anak mak merasa aman dan nyaman berada didalam pelukan mak.

Dulu anak-anak mak akan berteriak memanggil dan mencari-cari mak, kalau saja tidak nampak bayangan mak.

Anak-anak mak akan tanya "Mana Mak..?" apabila mak tidak ada menunggu di depan pintu atau tak ada di dalam rumah.
Anak-anak mak akan bertanya, "Mana Mak..?" apabila dapat nilai yang baik di sekolah atau dapat juara di kelas.
Anak-anak mak akan bertanya, "Mana Mak..?" kalau saja kaki lecet, kalau saja luka atau terkilir saat main bola di padang sekolah.
Anak-anak mak akan bertanya, "Mana Mak." setelah berkelahi dengan kawan-kawannya saat main-main bersama.

Bahkan tak jarang juga anak-anak mak menangis, meraung histeris mencari-cari mak, ketika anak-anak mak tidak menemui mak saat anak-anak mak balik ke rumah.

Sedangkan mak selalu resah dan selalu khawatir apabila anak-anak mak lambat balik, mak mau tahu di mana semua anak-anak mak berada setiap waktu dan setiap ketika.

Sekarang anak-anak mak sudah besar dan beranjak dewasa.
Sudah lama anak-anak mak tidak bertanya "Mana Mak..?"

Semakin anak-anak mak besar dan dewasa, maka pertanyaan "Mana Mak..?" semakin hilang dari pikiran dan bibir anak-anak mak.

Waktu itu bapak tetap berdiri di depan pintu menunggu mak dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu. 
Bapak resah menunggu mak kerana sudah senja dan hujan lebat macam ini mak masih belum balik juge, dalam hati bapak "kemane agaknye mak ni..?".

Bapak risau kerana sejak akhir-akhir ini mak kerab kali mengadu dan mengeluh kalau mak selalu sakit lutut, dan kata docter memang cairan di lutot mak itu selalu berkurang dan sangat fatal kalau sampai kering, mak bisa mengalami lumpuh total akibat kurangnya cairan di lutut itu.
Bayangan itu membuat bapak bertambah gundah dan semakin resah saja.

Tidak lame kemudian, dari kejauhan kelihatan sosok mak berjalan pelan-pelan memakai payung yang entah dari siapa payung itu, karena mak keluar dari rumah tadi tak membawa payung.

Hujan lebat masih belum berhenti juge, semakian mak dekat semakin nampak jelas kalau mak membawa jinjitan dua bungkusan plastik, yang sudah tentu jadi kebiasaan bagi mak, kalau mak balik ke rumah, mak akan membawa sesuatu untuk anak-anak mak apabila pulang dari berjalan.

Baju mak basah kena hujan lebat, walaupun mak memakai payung, bapak langsung sambut mak dan tolong tutupkan payung mak.

Mak bagi salam tetapi salam mak tidak berjawab.
Bergetar-getar kaki mak melangkah anak tangga satu persatu naik rumah. Bapak pimpin mak masuk ke rumah, ternyata lutut mak sakit lagi rupanya.

Mak lalu letakkan bungkusan itu di atas meja makan.
Sebungkus putu piring dan satu bungkus lagi lempeng sagu. Ini juge merupakan makanan khas melayu disini.
Yang rupenye pemberian dari Nek Busu untuk anak-anak mak. Nek Busu tahu dan hapal betol anak-anak mak suka makan kue putu piring dan lempeng sagu.

Tapi mak rase malu becakap memintak langsung dengan Nek Busu, nak bawa balik.
Namun raut wajah mak sudah cukup membuat Nek Busu faham dan tau maksud dalam hati Mak, makanye Nek Busu bekalkan kue itu kepade mak.

Saat menerima bungkusan kue putu piring dan lempeng sagu tadi, mak sempat berkata kepada Nek Busu, "Wah,,,  berebutlah Mak Usu, budak-budak tu nanti nampak kue putu piring dan lempeng sagu mak usu ni..”, dah lama memang budak-budak tu tak makan, makanan macam gini."
Sekurang-kurangnya itulah bayangan mak terhadap anak-anak mak..!

Mak bayangkan anak-anak mak sedang gembira ria dan berebut nak menikmati kue putu piring dan lempeng sagu sebagimana masa anak-anak mak kecil dulu.
Anak-anak mak berebut dan mak jadi hakim pembuat keputusan yang sangat adil, bahkan sering pulak mak akan memberikan bagian mak supaya anak-anak mak dapat dan puas menikmatinya.

Bayangan-bayangan seperti itu sering singgah di benak kepala mak.
Mak berayal kalau anak-anak mak sekarang, sama seperti anak-anak mak yang dulu.
Selepas mak mandi, mak tukar baju dan mak sembahyang maghrib berjamaah dengan bapak, bapak iringi mak menuju ke dapur, sebab memang dah saatnya makan malam tiba.

Mak lalu ajak anak-anak mak makan kue putu piring dan lempeng sagu tadi, namun tidak seorang pun anak-anak mak menjawab bahkan tak ade anak-anak mak yang menoleh kepada mak.
Ternyata telinga, mata dan hati anak-anak mak sudah bukan pada mak lagi.

Mak hanya tunduk, sabar dengan keadaan seperti ini, walau sebenarnye jauh dalam lubuk hati mak, mak tidak terima diperlakukan seperti ini oleh anak-anak mak.

Bapak tahu, mak sedih dan kecewa pada anak-anak mak, seperti yang tadi pernah bapak rasakan.
Bahkan bapak juge tau, kalau mak sudah tidak boleh mengharapkan anak-anak mak melompat-lompat gembira ria dan berlari-lari berebut cuma hanya mendakap dan memeluk mak dengan erat seperti dulu-dulu lagi.

Cuma bapak yang menemani mak makan malam ini, mak menyuap nasi perlahan-lahan, masih mengharapkan dan menunggu anak-anak mak akan mendekati mak dan kumpul makan bersama-sama. 
Mak sangat merindui makan bersama dengan semua anak-anak mak, setiap hari selalu mak berharap begitu, sebab mak pon sudah lupa bila terakhir mak kumpul makan bersama-sama dengan semua anak-anak mak.

Tetapi hanya bapak yang selalu setia duduk disamping mak dan bersama mak di meja makan setiap hari dan setiap kali makan...!

Bapak tahu, mak penat, lepak dan letih sebab berjalan jauh.
Siang tadi mak pergi ke rumah Nek Busu di kampung seberang tempat kelahiran bapak untuk beberapa hal dan keperluan.

Di meja makan, dengan lemah lembut, bapak bertanya kepada mak “kenape mak tidak telepon aje suruh anak-anak jemput..?”

Dengan bergetar suara Mak jawab, "Ani dah telepon budak-budak ni tadi, nak mintak jempot..!”
Tapi semua tak ada yang bergerak berangkat nak jempot ani"

Mak cakap dengan anak-anak mak, yang mak ni tidak boleh dan tak larat lagi nak berjalan jauh mane pulak hujan lagi, lutut mak akan sakit kalau sejuk macam gini. 

Saat itu ada sedikit harapan di hati mak agar salah seorang anak-anak mak akan datang menyusul menjemput mak dengan kenderaan.

Mak tahu mungkin anak-anak mak tidak sedar dan dengar kalau handpon berbunyi. 

Mak tetap menunggu dan sambil memegang handphon, barang kali ade salah satu anak-anak mak yang telpon balik pada mak. 
Tapi itu hanye hayalan mak semate.

Saat itu juga mak teringat kata-kata bapak, “Kita tak usah susahkan anak-anak, selagi kita mampu kita buat saja sendiri apa-apa pun itu, mereka ada kehidupan masing-masing. Tak payah sedih-sedih. Maafkan sajalah anak-anak kita”.

Kata-kata itulah yang membuat mak menjadi tetap semangat berjalan dalam rintik hujan yang sangat lebat.

Mak faham buah hati mak kini bukan budak-budak lagi, sekarang semua anak-anak mak sudah besar dan dewasa bahkan sudah ada yang menjadi orang tua.
Abang Long dan Andak sudah beristeri.        

Akak dah punya anak-anak yang selalu membuat waktunya habis.

Cik, selalu sebok dengan kerjaan dan aktifitasnya sehari-hari.

Ucu pulak, sudah punya buah hati sendiri yang sudah mengambil tempat mak di hatinya.
Semua tempat mak sudah tak ada lagi di hati anak-anak mak.

Pada suapan terakhir, setitik air mata mak jatuh ke pinggan..!
Sebab mak tak mampu menahan rasa yang sebakkan dada yang sedang mak rasakan saat ini.

Kue putu piring dan lempeng sagu masih belum diusik sama sekali oleh anak-anak mak.


Beberapa Tahun Kemudian
Pak Ngah tanya Abang Long, Akak, Cik, Andak, dan Ucu, “Bapak Mana?”
Hanya Cik yang jawab, “Bapak dah tak ada.”

Abang Long, Akak, Andak dan Ucu tidak sempat melihat minggu2 terakhir waktu Bapak sakit.
Kini Bapak sudah Lima Bulan berada di sisi Tuhannya bukan di sisi Anak-anak dan Mak lagi.

Dalam isakan tangis, Abang Long, Akak, Andak, dan Ucu saat kepergian Bapak yang tidak di sangka2 begitu cepatnya. Kini Mak tak ada tempat nak berbagi cerita tentang Anak-anak Mak lagi, karena tak ada lagi yang selalu bertanya dimana anak2 Mak, apa kabar anak2 Mak dan apa cerita dari anak2 Mak…

Bapak sakit tidak lama, waktu itu Abang Long, Akak, Andak dan Ucu kira sakit biasa saja dan memang mereka berada jauh di kampong ini, bahkan ada yang di luar negara. Kata Abang Long, Akak, Andak dan Ucu mereka tidak menyangka kalau sms dan telpon kabar sakit itu membuat Bapak pergi buat selama-lamanya, namun Alhamdlh semua anak2 Mak ada saat2 terakhir Bapak.
Mak faham, mata dan telinga anak-anak Mak adalah untuk orang lain bukan untuk Mak.
Hati anak-anak Mak bukan milik Mak lagi. Hanya hati Mak yang tidak pernah diberikan kepada sesiapa, hanya untuk anak-anak Mak.

Mak tidak sempat merasa diangkat di atas bahu anak-anak Mak. Hanya bahu anak2 Mak yang sempat mengangkat jenazah Bapak dalam hujan renyai.

Mak sangat sedih sebab tiada lagi suara Bapak yang akan memberi soalan kepada Mak,
"Mana Along?" , "Mana Akak?", "Mana Cik?", "Mana Andak?" atau "Mana Ucu?". Hanya Mak saja yang rajin menjawab soalan Bapak itu dan jawapan Mak memang tidak pernah silap. Mak sentiasa yakin dengan jawapannya sebab mak ambil tahu di mana anak-anaknya berada pada setiap waktu dan setiap ketika. Anak-anak Mak sentiasa di hati Mak tetapi hati anak-anak Mak ada orang lain yang mengisinya.

Mak sedih. Di tepi kubur Bapak, Mak bermonolog sendiri, "Mulai hari ini tidak perlu bertanya dan tak ada lagi yang bertanya kepada Abang Long, Akak, Cik, Andak dan Ucu, "Mana mak?"

Hati Mak hancur teringat hajat Bapak untuk mengucapkan atau membacakan sighat taqlik untuk Cik saat Cik nikah nanti.

Sebuah cerita pendek buat tatapan anak-anak.
Kata orang hidup seorang ibu waktu muda dilambung resah, apabila tua dilambung rasa.
Kata Rasulullah SAW, ibu 3 kali lebih utama dari ayah.
Bayangkanlah berapa kali ibu lebih utama dari isteri, pekerjaan dan anak-anak sebenarnya.
Sholat sunat pun Allah suruh berhenti apabila ibu memanggil.
Pertanyaannya Berapa kerap kalikah kita membiarkan deringan handphon panggilan dari ibu tanpa kita jawab..?