NADA TAK BERIRAMA
Alunan nada tak berirama
Memukau pecahkan suasana
Getar jiwa kian terasa
Tak berdaya...
Luluhkan rasa...
Terdengar lembut alunan sendu
Nan begitu syahdu menyayat hati pilu
Aku tetap terpaku...
Malu untuk berseteru...
Kian larut alunan itu
Mematahkan malam kelabu
Hingga tak terhingga
Kian terluka...
Semakin terlena...
Darussalam, 31 Januari 2015
By... Farizan
Kamis, 05 Februari 2015
Selasa, 27 Januari 2015
Kembalikan Hijauku
https://plus.google.com/108943361011097494620/posts/iiXLKcriDTr
Lomba Baca Puisi Penghijauan Kuala Selat-Kateman 2015
KEMBALIKAN HIJAUKU
Karya : Farizan
Deru angin menerpa tubuhku
Hingga mendorong lalu menusuk di relung jiwa
Engkau bahkan tidak mengerti juga
Ombak laut yang selalu pulang dan pergi
Sepertinya memberi tanda dan makna
Aku tetap berdiri di pantai ini
Sendiri...
Sehingga ku temukan apa yang ku inginkan
Pandanganku kini menerawang jauh
Melihat hijau yang telah memudar
Lihatlah hutan kita
Sedikit demi sedikit habis digerogoti
Oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab
Oleh orang-orang yang tidak memikirkan masa depan
Dibangun cerobong-cerobong asap pabrik
Dia hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli
Lalu apa yang kita dapat?
Polusi... Polusi... Polusi di sana sini
Hati ini terhenyuh, menjerit seraya berkata
Kembalikan hijauku
Muda tak selamanya muda
Hidup tak selamanya hidup
Dan pohonpun mulai berseru
Mereka meminta kawan
Mereka merintih kesepian
Tanpa ada yang mendengarkannya
Hati ini terhenyuh, menjerit seraya berkata
Kembalikan hijauku
Mari kita genggam bumi kita
Mari kita tanami bumi kita
Untuk kehidupan yang lebih baik
Satukan jemari
Beri yang lain pencerahan
Lindungi yang sudah merambah
Sisa akar-akar yang suram
Cukup tanam satu tunas satu hati
Dan untuk sebuah lautan hijau membentang
KEMBALIKAN HIJAUKU
Karya : Farizan
Deru angin menerpa tubuhku
Hingga mendorong lalu menusuk di relung jiwa
Engkau bahkan tidak mengerti juga
Ombak laut yang selalu pulang dan pergi
Sepertinya memberi tanda dan makna
Aku tetap berdiri di pantai ini
Sendiri...
Sehingga ku temukan apa yang ku inginkan
Pandanganku kini menerawang jauh
Melihat hijau yang telah memudar
Lihatlah hutan kita
Sedikit demi sedikit habis digerogoti
Oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab
Oleh orang-orang yang tidak memikirkan masa depan
Dibangun cerobong-cerobong asap pabrik
Dia hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli
Lalu apa yang kita dapat?
Polusi... Polusi... Polusi di sana sini
Hati ini terhenyuh, menjerit seraya berkata
Kembalikan hijauku
Muda tak selamanya muda
Hidup tak selamanya hidup
Dan pohonpun mulai berseru
Mereka meminta kawan
Mereka merintih kesepian
Tanpa ada yang mendengarkannya
Hati ini terhenyuh, menjerit seraya berkata
Kembalikan hijauku
Mari kita genggam bumi kita
Mari kita tanami bumi kita
Untuk kehidupan yang lebih baik
Satukan jemari
Beri yang lain pencerahan
Lindungi yang sudah merambah
Sisa akar-akar yang suram
Cukup tanam satu tunas satu hati
Dan untuk sebuah lautan hijau membentang
Selasa, 06 Januari 2015
Minggu, 07 Desember 2014
Realita Cinta
Inilah realita kehidupan beberapa tahun yang silam...
April kelabu, suram, hancur dan sirna 2009
Air mata...
bye bye cinta yang terabaikan.
Satria sebelum cahaya datang, tak nampak dan tak terlihat jelas dalam pandangan, ye kelabu, suram, hancur dan sirna.
Ku ratapi kisah ku dengan air mata, ku renungi kisah cinta ku dengan tangis sendu, hati ini memang terlalu sakit, karena cintanya...
Huuftess... menghela nafas panjang
Yaah, serpihan demi serpihan ku rasa begitu terasa hingga menggetarkan dada, kepingan-kepingan tentangnya ku ingat, semakin ku kenang, semakin aku hancur...!
Mmmmm...
Tapi mengapa...?
Sampai sekarang aku masih mencintainya...!
Pilur-pilur luka meleleh, harapan cinta tetap mengental,
Ku coba menahan isak tangis hingga sesak dan menghapus setiap tetesan air mata di pipi hingga sirna.
Namun mengapa...?
Luka dan sakit ini membuat aku semakin cinta!
Kapankah air mata ini berubah menjadi air mata yang bening, sebening salju dan tak akan keruh.
Kapankah derai tangisan ku terhenti dan menjadi setetes lalu terakhir.
Seharusnya aku tak perlu tangisi, harusnya aku kuat, harusnya aku bangkit, harusnya tak perlu ku pertaruhkan air mata ini. Hanya demi satu kenangan yang mungkin tidak begitu indah untuk di kenang di masa depan dan masa yang telah pergi, perlahan menjauh dan terus jauh dari hadapan...
Tapi mengapa..
Mengapa sampai sekarang aku belum bisa melupakannya, apa perlu seribu tahun lagi, mengapa terus jatuh tersungkur dan menumpahkan air mata yang perihkan hati ini.
Hati ku kini menjadi perasa, air mata ini jatuh, jatuh untuk cinta yang telah mengabaikan ku.
Mataku yang menjadi saksi bagaimana air mata ini jatuh untuknya.
Air mataku terus jatuh ..
Terlalu banyak dan berderai
Terlalu lama menetes dan terus menumpah membasahi pipi
Dan aku sendiri...
Bersama keluh kesah ku..
Yang tenggelam oleh suara tangis ku bersama serpihan hati yang akan ku bawa sampai aku mati...!
April kelabu, suram, hancur dan sirna 2009
Air mata...
bye bye cinta yang terabaikan.
Satria sebelum cahaya datang, tak nampak dan tak terlihat jelas dalam pandangan, ye kelabu, suram, hancur dan sirna.
Ku ratapi kisah ku dengan air mata, ku renungi kisah cinta ku dengan tangis sendu, hati ini memang terlalu sakit, karena cintanya...
Huuftess... menghela nafas panjang
Yaah, serpihan demi serpihan ku rasa begitu terasa hingga menggetarkan dada, kepingan-kepingan tentangnya ku ingat, semakin ku kenang, semakin aku hancur...!
Mmmmm...
Tapi mengapa...?
Sampai sekarang aku masih mencintainya...!
Pilur-pilur luka meleleh, harapan cinta tetap mengental,
Ku coba menahan isak tangis hingga sesak dan menghapus setiap tetesan air mata di pipi hingga sirna.
Namun mengapa...?
Luka dan sakit ini membuat aku semakin cinta!
Kapankah air mata ini berubah menjadi air mata yang bening, sebening salju dan tak akan keruh.
Kapankah derai tangisan ku terhenti dan menjadi setetes lalu terakhir.
Seharusnya aku tak perlu tangisi, harusnya aku kuat, harusnya aku bangkit, harusnya tak perlu ku pertaruhkan air mata ini. Hanya demi satu kenangan yang mungkin tidak begitu indah untuk di kenang di masa depan dan masa yang telah pergi, perlahan menjauh dan terus jauh dari hadapan...
Tapi mengapa..
Mengapa sampai sekarang aku belum bisa melupakannya, apa perlu seribu tahun lagi, mengapa terus jatuh tersungkur dan menumpahkan air mata yang perihkan hati ini.
Hati ku kini menjadi perasa, air mata ini jatuh, jatuh untuk cinta yang telah mengabaikan ku.
Mataku yang menjadi saksi bagaimana air mata ini jatuh untuknya.
Air mataku terus jatuh ..
Terlalu banyak dan berderai
Terlalu lama menetes dan terus menumpah membasahi pipi
Dan aku sendiri...
Bersama keluh kesah ku..
Yang tenggelam oleh suara tangis ku bersama serpihan hati yang akan ku bawa sampai aku mati...!
Rabu, 08 Oktober 2014
MANA MAK
22 Desember 2011 pukul 22:59
https://www.facebook.com/notes/izan-bahdin/mana-mak/10150428754656954
"MANA MAK..?"
Bapak tanya Mak lagi, “Akak mana..?”
Macam gitulah mak, Selalu mak jawab semua soalan bapak penuh yakin dan percaye diri. Tiap-tiap hari bapak bertanya soalan yang sama pade mak, tapi mak tetap saja menjawab penuh perhatian dan penuh keyakinan pula.
Memang sudah naluri seorang mak agaknya akan berbuat seperti itu, yang resah kalau anak-anak mak tak ade bersamenya dan selalu semangat menjawab semua soalan bapak atas anak-anaknya.
Bapak balik awal ke rumah hari ini. Baju bapak basah dan kotor, sebab hujan turun lebat sangat sejak tengah hari tadi dan belum juge berhenti.
Lalu Bapak bertanya, “Mana Mak..?”
Bapak tanya pada Cik, “Mana Mak..?”
Bapak tak mau putus asa, tetap ingin tau sebenarnya di mana keberadaan mak, dan bapak pon bertanya kepada Andak, “Mana Mak..?”
Bapak mengulangi sekali lagi soalannya kepada andak, "Mana Mak..?”
Bapak tidak mahu tanya ucu yang sedang asyik menatap handphon mungkin lagi buka facebook, twitter atau apalah itu.
Bapak tahu dan bahkan bapak yakin betol yang bapak tidak akan mendapat jawaban yang bapak mau dari ucu.
Tidak ada siapa yang tahu di mana mak berada saat itu, bahkan mencari tau di mane mak.
Dalam hening sunyi senyap tanpa ada kata, tiba-tiba ucu bersuara, “Mak ni dah senje-senje pon masih bejalan lagi..! Tak reti nak balik ke…?!!”
Tersentak hati Bapak mendengar kata-kata ucu itu.
Wajah bapak langsung berubah merah padam, bapak berusaha tetap menahan amarahnya, bapak cume merasa sedih, di dalam hati bapak menangis, kecewa dan entah apa lagi yang bapak rasakan ketika itu.
Dulu anak-anak mak merangkak dan berlari-lari mengejar menuju mak tanpa diminta atau disuruh, hanya ingin mendekap dan berpelukan di dalam pelukan mak, anak-anak mak merasa aman dan nyaman berada didalam pelukan mak.
Dulu anak-anak mak akan berteriak memanggil dan mencari-cari mak, kalau saja tidak nampak bayangan mak.
Anak-anak mak akan tanya "Mana Mak..?" apabila mak tidak ada menunggu di depan pintu atau tak ada di dalam rumah.
Bahkan tak jarang juga anak-anak mak menangis, meraung histeris mencari-cari mak, ketika anak-anak mak tidak menemui mak saat anak-anak mak balik ke rumah.
Sedangkan mak selalu resah dan selalu khawatir apabila anak-anak mak lambat balik, mak mau tahu di mana semua anak-anak mak berada setiap waktu dan setiap ketika.
Sekarang anak-anak mak sudah besar dan beranjak dewasa.
Waktu itu bapak tetap berdiri di depan pintu menunggu mak dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
Bapak risau kerana sejak akhir-akhir ini mak kerab kali mengadu dan mengeluh kalau mak selalu sakit lutut, dan kata docter memang cairan di lutot mak itu selalu berkurang dan sangat fatal kalau sampai kering, mak bisa mengalami lumpuh total akibat kurangnya cairan di lutut itu.
Tidak lame kemudian, dari kejauhan kelihatan sosok mak berjalan pelan-pelan memakai payung yang entah dari siapa payung itu, karena mak keluar dari rumah tadi tak membawa payung.
Hujan lebat masih belum berhenti juge, semakian mak dekat semakin nampak jelas kalau mak membawa jinjitan dua bungkusan plastik, yang sudah tentu jadi kebiasaan bagi mak, kalau mak balik ke rumah, mak akan membawa sesuatu untuk anak-anak mak apabila pulang dari berjalan.
Baju mak basah kena hujan lebat, walaupun mak memakai payung, bapak langsung sambut mak dan tolong tutupkan payung mak.
Mak lalu letakkan bungkusan itu di atas meja makan.
Tapi mak rase malu becakap memintak langsung dengan Nek Busu, nak bawa balik.
Saat menerima bungkusan kue putu piring dan lempeng sagu tadi, mak sempat berkata kepada Nek Busu, "Wah,,, berebutlah Mak Usu, budak-budak tu nanti nampak kue putu piring dan lempeng sagu mak usu ni..”, dah lama memang budak-budak tu tak makan, makanan macam gini."
Mak bayangkan anak-anak mak sedang gembira ria dan berebut nak menikmati kue putu piring dan lempeng sagu sebagimana masa anak-anak mak kecil dulu.
Bayangan-bayangan seperti itu sering singgah di benak kepala mak.
Mak lalu ajak anak-anak mak makan kue putu piring dan lempeng sagu tadi, namun tidak seorang pun anak-anak mak menjawab bahkan tak ade anak-anak mak yang menoleh kepada mak.
Mak hanya tunduk, sabar dengan keadaan seperti ini, walau sebenarnye jauh dalam lubuk hati mak, mak tidak terima diperlakukan seperti ini oleh anak-anak mak.
Bapak tahu, mak sedih dan kecewa pada anak-anak mak, seperti yang tadi pernah bapak rasakan.
Cuma bapak yang menemani mak makan malam ini, mak menyuap nasi perlahan-lahan, masih mengharapkan dan menunggu anak-anak mak akan mendekati mak dan kumpul makan bersama-sama.
Tetapi hanya bapak yang selalu setia duduk disamping mak dan bersama mak di meja makan setiap hari dan setiap kali makan...!
Bapak tahu, mak penat, lepak dan letih sebab berjalan jauh.
Di meja makan, dengan lemah lembut, bapak bertanya kepada mak “kenape mak tidak telepon aje suruh anak-anak jemput..?”
Dengan bergetar suara Mak jawab, "Ani dah telepon budak-budak ni tadi, nak mintak jempot..!”
Mak cakap dengan anak-anak mak, yang mak ni tidak boleh dan tak larat lagi nak berjalan jauh mane pulak hujan lagi, lutut mak akan sakit kalau sejuk macam gini.
Mak tahu mungkin anak-anak mak tidak sedar dan dengar kalau handpon berbunyi.
Mak tetap menunggu dan sambil memegang handphon, barang kali ade salah satu anak-anak mak yang telpon balik pada mak.
Tapi itu hanye hayalan mak semate.
Saat itu juga mak teringat kata-kata bapak, “Kita tak usah susahkan anak-anak, selagi kita mampu kita buat saja sendiri apa-apa pun itu, mereka ada kehidupan masing-masing. Tak payah sedih-sedih. Maafkan sajalah anak-anak kita”.
Kata-kata itulah yang membuat mak menjadi tetap semangat berjalan dalam rintik hujan yang sangat lebat.
Cik, selalu sebok dengan kerjaan dan aktifitasnya sehari-hari.
Ucu pulak, sudah punya buah hati sendiri yang sudah mengambil tempat mak di hatinya.
Pada suapan terakhir, setitik air mata mak jatuh ke pinggan..!
Kue putu piring dan lempeng sagu masih belum diusik sama sekali oleh anak-anak mak.
https://www.facebook.com/notes/izan-bahdin/mana-mak/10150428754656954
"MANA MAK..?"
Jam
5.30 Petang
Mak
berdiri di depan pintu. Wajah Mak kelihatan resah dan bimbang. Mak tengah
tunggu ucu yang dari tengah hari tadi belom balik juga dari les dengan guru
kelasnya. Memang sudah mejadi kebiasaan di sini, kalau anak sekolah dasar macam
ucu tu, diharuskan mengikuti les tambahan dari guru kelasnya.
Saat
itu Bapak baru balek dari kebunnya di "Teluk Bakau, Desa Rotan
Semelur" di mana kampung halaman dan tempat kelahiran bapak.
Memang
sudah menjadi rutinitas bapak sejak kami pindah dari desa itu ke kota kecamatan
yaitu "Kecamatan Kateman, Sungai Guntung", beberapa taon yang lalu.
Tanpa
ade basa-basi lagi bapak langsung menghampiri mak yang dari tadi berdiri di
depan pintu rumah, entah sejak bile dan berape lame agaknye mak dah berdiri menunggu
di situ.
Sepertinye
bapak dapat menebak dari raut wajah mak
yang kelihatan resah dan bimbang, tebakan bapak pastilah kalau anak-anak mak
belom balek semua ke rumah, sebab bapak tau betol sikap mak terhadap anak-anak
mak.
Lalu
bapak tanya Mak, “Abang Long ke mana..?”
Mak
jawab, “Kan pegi merantau ke negara jiran”.
Bapak
sengaja tanya Abang Long pada mak, Abang Long adalah anak paling tua, padahal
bapak tau kalo abang long sejak delapan taon yang lalu pergi ke negara jiran
dengan kawan-kawannya, bapak rase mak teringat dan memang sangat rindu dengan
kepergian abang long itu.
Sebab keberangkatan abang long memang tanpa izin dari mak dan bapak.
Sebab keberangkatan abang long memang tanpa izin dari mak dan bapak.
Bapak tanya Mak lagi, “Akak mana..?”
Mak
jawab, “Ade, baru sudah mandi dan lagi tolong siapkan buat makan malam”.
Akak
anak kedua dan satu-satunya anak perempuan di keluarga kami.
Bapak terus Tanya Mak, “Cik mana..?”
Bapak terus Tanya Mak, “Cik mana..?”
Mak
Jawab, “Tu, lagi tutop semua tingkap atau jendela rumah”
Bapak
masih penasaran sebenarnya ape yang membuat wajah mak resah dan bimbang,
sementara cik anak ketiga sudah berade dirumah.
Bapak
tanya Mak, “Andak mana..?”
Mak
jawab, “Andak, tengah mandi, baru balek main dengan kawan-kawannya”.
Andak
sebutan anak keempat dalam keluarga ini.
Bapak
terus tanya lagi, “Ucu dah balik..?”
Mak
dengan cepat menjawab, “Belum..! Patutnye jam segini ucu dah balik, Mungkin lagi
asyik les kat rumah gurunye”. Mak berusaha menenangkan diri sendiri.
“Sekejap
lagi kalau ucu tak balik juge kita pergi cari ucu”.
Ternyata
bapak dah pon dapat jawaban atas penasarannye tadi, mak risau, mak juge resah dan
bimbang karena ucu anak bungsu belom juge balek.
Dengan
penuh keyakinan bapak berkata pada mak, "sudahlah, sekejab lagi balek lah
tu, tak osah nak risau-risau, masuk dan tunggu kat dalam rumah je", mak
pon serentak masuk ke dalam rumah mengikuti bapak.
Macam gitulah mak, Selalu mak jawab semua soalan bapak penuh yakin dan percaye diri. Tiap-tiap hari bapak bertanya soalan yang sama pade mak, tapi mak tetap saja menjawab penuh perhatian dan penuh keyakinan pula.
Mak
ambil berat di mana anak-anak mak dan bagaimana keadaan anak-anak mak setiap
masa dan setiap ketika, walau sebetolnye mak tak tau pasti kat mana anak-anak
mak berada saat itu.
Memang sudah naluri seorang mak agaknya akan berbuat seperti itu, yang resah kalau anak-anak mak tak ade bersamenya dan selalu semangat menjawab semua soalan bapak atas anak-anaknya.
Lima
Belas Tahun Kemudian
Jam
5.30 Petang
Hari
ini memang tidak seperti hari-hari biasenya, yang mana rutinitas bapak selalu
ke kabunnya, tetapi seharian ini bapak ikut gotong-royong di Masjid “Darussalam”
bersame-same dengan jamaah yang lain, karena masjid di dekat rumah dalam
pembangunan dan bapak pulaklah yang menjadi ketua panitia pembangunannya.
Bapak balik awal ke rumah hari ini. Baju bapak basah dan kotor, sebab hujan turun lebat sangat sejak tengah hari tadi dan belum juge berhenti.
Lalu Bapak bertanya, “Mana Mak..?”
Akak
sedang membolak-belek baju yang baru saja siap di jahitnya.
Memanglah akak pandai menjahit dan tak heran banyak juge jiran-jiran yang selalu upah menjahit baju dengan akak.
Memanglah akak pandai menjahit dan tak heran banyak juge jiran-jiran yang selalu upah menjahit baju dengan akak.
Akak
terus jawab, “Tak tau...”.
Bapak tanya pada Cik, “Mana Mak..?”
Cik
yang tengah asyik nonton saluran salah satu tv siaran kesukaannya, seolah-olah
tidak dapat diganggu same sekali dan cik pun dengan cepat menjawab, “Mana Cik Tau..!”
Bapak tak mau putus asa, tetap ingin tau sebenarnya di mana keberadaan mak, dan bapak pon bertanya kepada Andak, “Mana Mak..?”
Bapak
menunggu lama jawaban dari andak yang asyik membaca majalah remaja yang selalu
ditunggu-tunggu dan dinanti setiap edisi terbitannya.
Bapak mengulangi sekali lagi soalannya kepada andak, "Mana Mak..?”
Lalu
Andak menjawab, “Entah..!”
Andak
terus membaca majalah tanpa menoleh kearah bapak sedikitpun.
Bapak
hanya menghela nafas panjang dan terhenyuh hati bapak hingga pikiran bapak
menjadi tidak tenteram atas semua jawaban yang diberikan anak-anak mak, ingin
rasanye bapak marah saat itu, tapi bapak tak nak lakukan dan bapak tetap sabar
dan terus bersabar.
Bapak tidak mahu tanya ucu yang sedang asyik menatap handphon mungkin lagi buka facebook, twitter atau apalah itu.
Bapak tahu dan bahkan bapak yakin betol yang bapak tidak akan mendapat jawaban yang bapak mau dari ucu.
Tidak ada siapa yang tahu di mana mak berada saat itu, bahkan mencari tau di mane mak.
Tidak
ada siapa yang rase ingin tahu di mana mak atau tergerak hati nak tau di mane mak.
Mata
dan hati anak-anak mak, kini tidak pada mak lagi, seperti mase anak-anak mak
kecik dulu.
Hanya
mata dan hati bapak yang selalu mencari-cari di mana mak dan di mana anak-anak
mak.
Tidak
ada satupon anak-anak mak yang tahu setiap kali bapak bertanya, "Mana Mak..?"
Dalam hening sunyi senyap tanpa ada kata, tiba-tiba ucu bersuara, “Mak ni dah senje-senje pon masih bejalan lagi..! Tak reti nak balik ke…?!!”
Tersentak hati Bapak mendengar kata-kata ucu itu.
Wajah bapak langsung berubah merah padam, bapak berusaha tetap menahan amarahnya, bapak cume merasa sedih, di dalam hati bapak menangis, kecewa dan entah apa lagi yang bapak rasakan ketika itu.
Dulu anak-anak mak merangkak dan berlari-lari mengejar menuju mak tanpa diminta atau disuruh, hanya ingin mendekap dan berpelukan di dalam pelukan mak, anak-anak mak merasa aman dan nyaman berada didalam pelukan mak.
Dulu anak-anak mak akan berteriak memanggil dan mencari-cari mak, kalau saja tidak nampak bayangan mak.
Anak-anak mak akan tanya "Mana Mak..?" apabila mak tidak ada menunggu di depan pintu atau tak ada di dalam rumah.
Anak-anak
mak akan bertanya, "Mana Mak..?" apabila dapat nilai yang baik di
sekolah atau dapat juara di kelas.
Anak-anak
mak akan bertanya, "Mana Mak..?" kalau saja kaki lecet, kalau saja luka
atau terkilir saat main bola di padang sekolah.
Anak-anak
mak akan bertanya, "Mana Mak." setelah berkelahi dengan
kawan-kawannya saat main-main bersama.
Bahkan tak jarang juga anak-anak mak menangis, meraung histeris mencari-cari mak, ketika anak-anak mak tidak menemui mak saat anak-anak mak balik ke rumah.
Sedangkan mak selalu resah dan selalu khawatir apabila anak-anak mak lambat balik, mak mau tahu di mana semua anak-anak mak berada setiap waktu dan setiap ketika.
Sekarang anak-anak mak sudah besar dan beranjak dewasa.
Sudah
lama anak-anak mak tidak bertanya "Mana Mak..?"
Semakin
anak-anak mak besar dan dewasa, maka pertanyaan "Mana Mak..?" semakin
hilang dari pikiran dan bibir anak-anak mak.
Waktu itu bapak tetap berdiri di depan pintu menunggu mak dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
Bapak
resah menunggu mak kerana sudah senja dan hujan lebat macam ini mak masih belum
balik juge, dalam hati bapak "kemane agaknye mak ni..?".
Bapak risau kerana sejak akhir-akhir ini mak kerab kali mengadu dan mengeluh kalau mak selalu sakit lutut, dan kata docter memang cairan di lutot mak itu selalu berkurang dan sangat fatal kalau sampai kering, mak bisa mengalami lumpuh total akibat kurangnya cairan di lutut itu.
Bayangan
itu membuat bapak bertambah gundah dan semakin resah saja.
Tidak lame kemudian, dari kejauhan kelihatan sosok mak berjalan pelan-pelan memakai payung yang entah dari siapa payung itu, karena mak keluar dari rumah tadi tak membawa payung.
Hujan lebat masih belum berhenti juge, semakian mak dekat semakin nampak jelas kalau mak membawa jinjitan dua bungkusan plastik, yang sudah tentu jadi kebiasaan bagi mak, kalau mak balik ke rumah, mak akan membawa sesuatu untuk anak-anak mak apabila pulang dari berjalan.
Baju mak basah kena hujan lebat, walaupun mak memakai payung, bapak langsung sambut mak dan tolong tutupkan payung mak.
Mak
bagi salam tetapi salam mak tidak berjawab.
Bergetar-getar
kaki mak melangkah anak tangga satu persatu naik rumah. Bapak pimpin mak masuk
ke rumah, ternyata lutut mak sakit lagi rupanya.
Mak lalu letakkan bungkusan itu di atas meja makan.
Sebungkus
putu piring dan satu bungkus lagi lempeng sagu. Ini juge merupakan makanan khas
melayu disini.
Yang
rupenye pemberian dari Nek Busu untuk anak-anak mak. Nek Busu tahu dan hapal
betol anak-anak mak suka makan kue putu piring dan lempeng sagu.
Tapi mak rase malu becakap memintak langsung dengan Nek Busu, nak bawa balik.
Namun
raut wajah mak sudah cukup membuat Nek Busu faham dan tau maksud dalam hati Mak,
makanye Nek Busu bekalkan kue itu kepade mak.
Saat menerima bungkusan kue putu piring dan lempeng sagu tadi, mak sempat berkata kepada Nek Busu, "Wah,,, berebutlah Mak Usu, budak-budak tu nanti nampak kue putu piring dan lempeng sagu mak usu ni..”, dah lama memang budak-budak tu tak makan, makanan macam gini."
Sekurang-kurangnya
itulah bayangan mak terhadap anak-anak mak..!
Mak bayangkan anak-anak mak sedang gembira ria dan berebut nak menikmati kue putu piring dan lempeng sagu sebagimana masa anak-anak mak kecil dulu.
Anak-anak
mak berebut dan mak jadi hakim pembuat keputusan yang sangat adil, bahkan
sering pulak mak akan memberikan bagian mak supaya anak-anak mak dapat dan puas
menikmatinya.
Bayangan-bayangan seperti itu sering singgah di benak kepala mak.
Mak
berayal kalau anak-anak mak sekarang, sama seperti anak-anak mak yang dulu.
Selepas
mak mandi, mak tukar baju dan mak sembahyang maghrib berjamaah dengan bapak, bapak iringi mak menuju
ke dapur, sebab memang dah saatnya makan malam tiba.
Mak lalu ajak anak-anak mak makan kue putu piring dan lempeng sagu tadi, namun tidak seorang pun anak-anak mak menjawab bahkan tak ade anak-anak mak yang menoleh kepada mak.
Ternyata
telinga, mata dan hati anak-anak mak sudah bukan pada mak lagi.
Mak hanya tunduk, sabar dengan keadaan seperti ini, walau sebenarnye jauh dalam lubuk hati mak, mak tidak terima diperlakukan seperti ini oleh anak-anak mak.
Bapak tahu, mak sedih dan kecewa pada anak-anak mak, seperti yang tadi pernah bapak rasakan.
Bahkan
bapak juge tau, kalau mak sudah tidak boleh mengharapkan anak-anak mak melompat-lompat
gembira ria dan berlari-lari berebut cuma hanya mendakap dan memeluk mak dengan
erat seperti dulu-dulu lagi.
Cuma bapak yang menemani mak makan malam ini, mak menyuap nasi perlahan-lahan, masih mengharapkan dan menunggu anak-anak mak akan mendekati mak dan kumpul makan bersama-sama.
Mak
sangat merindui makan bersama dengan semua anak-anak mak, setiap hari selalu mak
berharap begitu, sebab mak pon sudah lupa bila terakhir mak kumpul makan
bersama-sama dengan semua anak-anak mak.
Tetapi hanya bapak yang selalu setia duduk disamping mak dan bersama mak di meja makan setiap hari dan setiap kali makan...!
Bapak tahu, mak penat, lepak dan letih sebab berjalan jauh.
Siang
tadi mak pergi ke rumah Nek Busu di kampung seberang tempat kelahiran bapak
untuk beberapa hal dan keperluan.
Di meja makan, dengan lemah lembut, bapak bertanya kepada mak “kenape mak tidak telepon aje suruh anak-anak jemput..?”
Dengan bergetar suara Mak jawab, "Ani dah telepon budak-budak ni tadi, nak mintak jempot..!”
Tapi
semua tak ada yang bergerak berangkat nak jempot ani"
Mak cakap dengan anak-anak mak, yang mak ni tidak boleh dan tak larat lagi nak berjalan jauh mane pulak hujan lagi, lutut mak akan sakit kalau sejuk macam gini.
Saat
itu ada sedikit harapan di hati mak agar salah seorang anak-anak mak akan
datang menyusul menjemput mak dengan kenderaan.
Mak tahu mungkin anak-anak mak tidak sedar dan dengar kalau handpon berbunyi.
Mak tetap menunggu dan sambil memegang handphon, barang kali ade salah satu anak-anak mak yang telpon balik pada mak.
Tapi itu hanye hayalan mak semate.
Saat itu juga mak teringat kata-kata bapak, “Kita tak usah susahkan anak-anak, selagi kita mampu kita buat saja sendiri apa-apa pun itu, mereka ada kehidupan masing-masing. Tak payah sedih-sedih. Maafkan sajalah anak-anak kita”.
Kata-kata itulah yang membuat mak menjadi tetap semangat berjalan dalam rintik hujan yang sangat lebat.
Mak
faham buah hati mak kini bukan budak-budak lagi, sekarang semua anak-anak mak
sudah besar dan dewasa bahkan sudah ada yang menjadi orang tua.
Abang
Long dan Andak sudah beristeri.
Akak dah punya anak-anak yang selalu membuat waktunya habis.
Akak dah punya anak-anak yang selalu membuat waktunya habis.
Cik, selalu sebok dengan kerjaan dan aktifitasnya sehari-hari.
Ucu pulak, sudah punya buah hati sendiri yang sudah mengambil tempat mak di hatinya.
Semua
tempat mak sudah tak ada lagi di hati anak-anak mak.
Pada suapan terakhir, setitik air mata mak jatuh ke pinggan..!
Sebab
mak tak mampu menahan rasa yang sebakkan dada yang sedang mak rasakan saat ini.
Kue putu piring dan lempeng sagu masih belum diusik sama sekali oleh anak-anak mak.
Beberapa
Tahun Kemudian
Pak
Ngah tanya Abang Long, Akak, Cik, Andak, dan Ucu, “Bapak Mana?”
Hanya
Cik yang jawab, “Bapak dah tak ada.”
Abang
Long, Akak, Andak dan Ucu tidak sempat melihat minggu2 terakhir waktu Bapak
sakit.
Kini
Bapak sudah Lima Bulan berada di sisi Tuhannya bukan di sisi Anak-anak dan Mak
lagi.
Dalam
isakan tangis, Abang Long, Akak, Andak, dan Ucu saat kepergian Bapak yang tidak
di sangka2 begitu cepatnya. Kini Mak tak ada tempat nak berbagi cerita tentang
Anak-anak Mak lagi, karena tak ada lagi yang selalu bertanya dimana anak2 Mak,
apa kabar anak2 Mak dan apa cerita dari anak2 Mak…
Bapak
sakit tidak lama, waktu itu Abang Long, Akak, Andak dan Ucu kira sakit biasa
saja dan memang mereka berada jauh di kampong ini, bahkan ada yang di luar
negara. Kata Abang Long, Akak, Andak dan Ucu mereka tidak menyangka kalau sms
dan telpon kabar sakit itu membuat Bapak pergi buat selama-lamanya, namun
Alhamdlh semua anak2 Mak ada saat2 terakhir Bapak.
Mak
faham, mata dan telinga anak-anak Mak adalah untuk orang lain bukan untuk Mak.
Hati
anak-anak Mak bukan milik Mak lagi. Hanya hati Mak yang tidak pernah diberikan
kepada sesiapa, hanya untuk anak-anak Mak.
Mak
tidak sempat merasa diangkat di atas bahu anak-anak Mak. Hanya bahu anak2 Mak
yang sempat mengangkat jenazah Bapak dalam hujan renyai.
Mak
sangat sedih sebab tiada lagi suara Bapak yang akan memberi soalan kepada Mak,
"Mana
Along?" , "Mana Akak?", "Mana Cik?", "Mana
Andak?" atau "Mana Ucu?". Hanya Mak saja yang rajin menjawab
soalan Bapak itu dan jawapan Mak memang tidak pernah silap. Mak sentiasa yakin
dengan jawapannya sebab mak ambil tahu di mana anak-anaknya berada pada setiap
waktu dan setiap ketika. Anak-anak Mak sentiasa di hati Mak tetapi hati
anak-anak Mak ada orang lain yang mengisinya.
Mak
sedih. Di tepi kubur Bapak, Mak bermonolog sendiri, "Mulai hari ini tidak
perlu bertanya dan tak ada lagi yang bertanya kepada Abang Long, Akak, Cik,
Andak dan Ucu, "Mana mak?"
Hati
Mak hancur teringat hajat Bapak untuk mengucapkan atau membacakan sighat taqlik
untuk Cik saat Cik nikah nanti.
Sebuah
cerita pendek buat tatapan anak-anak.
Kata
orang hidup seorang ibu waktu muda dilambung resah, apabila tua dilambung rasa.
Kata
Rasulullah SAW, ibu 3 kali lebih utama dari ayah.
Bayangkanlah
berapa kali ibu lebih utama dari isteri, pekerjaan dan anak-anak sebenarnya.
Sholat
sunat pun Allah suruh berhenti apabila ibu memanggil.
Pertanyaannya
Berapa kerap kalikah kita membiarkan deringan handphon panggilan dari ibu tanpa
kita jawab..?
Minggu, 21 September 2014
Pertengkaran dan Faktor yang mungkin penyebab terjadinya Gejolak di dalam Rumah Tangga
Saudara ku...
Jangan pernah Menjadikan pertengkaran itu sebagai momen perpisahan di antara kalian..!
Melainkan menjadikan pertengkaran itu sebagai momen yang membuat kalian bisa lebih mengerti dan memahami akan kepribadian pasangan masing-masing...
Tidak mudah memang, namun tidak salah jika kita mulai belajar untuk itu, bukankah kehidupan itu adalah proses belajar,,,?
Dimana kita saling mengenal dan mengerti lebih lanjut tentang pasangan kita masing-masing, untuk membentuk suatu hubungan yang lebih baik lagi di masa mendatang.
Menggabungkan dua orang insan laki-laki dan perempuan dalam satu ikatan pernikahan merupakan hal yang diharapkan berjalan dengan baik tanpa ada konflik-konflik yang terjadi. Tapi itu tidak mudah, setelah mejalin ikatan pernikahan akan terbentuk suatu wadah yang disebut keluarga yang kemudian akan diikuti timbulnya berbagai permasalahan-permasalan yang bisa saja berujung perceraian. Ada begitu banyak faktor yang menyebabkan timbulnya gejolak kehidupan suami istri tapi dalam catatan ini akan disederhanakan menjadi 5 kelompok, yaitu:
1. Faktor Kerusakan Akhlak
Agama memiliki peranan penting dalam membentuk akhlak keluarga baik itu suami maupun istri. Jika suami, istri dan keluarga sudah tidak taat dalam menghayati dan mengamalkan agamanya maka ini adalah titik awal penyebab kerusakan akhlak. Keluarga jenis ini sering meninggalkan apa yang diperintahkan oleh agama tapi justru melanggar apa yang dilarang oleh agama. Semakin sering melanggar larangan agama maka akan semakin rusak akhlak yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Maka berhati-hatilah dalam membina keluarga, selalu jalankan segala yang diperintahkan oleh agama dan hindari apa yang dilarang oleh agama. Perbuatan yang melanggar larangan seperti mengkonsumsi narkoba, main perempuan atau zina, Berjudi, Minum-minuman yang memabukan, mencuri dsb.
2. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi sering dijadikan kambing hitam atas kehancuran rumah tangga, hal ini bisa terjadi karena beberapa hal diantaranya; kurangnya rasa syukur akan rejeki yang sudah diberikan oleh Allah sehingga akan muncul perasaan kurang dengan apa yang sudah diraih dan dimiliki; Cara pemanfaatan yang kurang bijak dan tidak bisa mengatur besarnya penghasilan yang diperoleh dengan pengeluaran yang dilakukan. Seperti kata pepatah 'besar pasak dari pada tiang' dan akan lebih bijak jika menggunakan pepatah 'belanjakanlah sesuai dengan kebutuhan dan jangan sesuai keinginan'. Perilaku seperti ini akan membentuk keluarga yang selalu 'gali lobang tutup lobang' selama membina rumah tangganya; Tidak adanya keterbukaan antara suami dan istri dalam hal penghasilan dan penggunaannya.
3. Faktor Biologis
Ini faktor berikutnya setelah faktor ekonomi yang menjadi faktor terjadinya gejolak rumah tangga. Faktor biologis bisa saja menjadi faktor penyebab gejolak keluarga hal ini bisa saja terjadi karena beberapa hal; salah satu pihak tidak mampu menjalankan kewajibannya dalam hubungan kesuami-istrian; Karena salah satu pihak over seks sehingga pada saat berhubungan kesuami-istrian tidak pernah merasa menemukan kepuasan; Karena tidak mampu memberikan keturunan dan atau tidak dapat melahirkan; Karena perbedaan umur yang mencolok terlalu jauh sehingga salah satunya menjadi minder dan kurang percaya diri.
4. Faktor Pihak Ketiga
Inilah faktor yang sekarang sedang menggejolak di masyarakat Indonesia. Perkembangan teknologi komunikasi membuat hubungan dan komunikasi menjadi lebih mudah. Namun sayang hal ini justru menjadi sarana yang dipergunakan tidak semestinya. Konflik yang terjadi antara suami istri biasanya diawali dari pihak ketiga yang muncul diantara mereka, sehingga menimbulkan cemburu buta. Atau justru masalah ini dipengaruhi pihak ketiga yang merupakan bagian dari keluarga, misal; mertua, ipar, pembantu dan lain sebagainya. Poligami juga menjadikan hubungan suami istri menjadi retak karena pada umunya istri tidak bersedia di poligami. Istri masih bersedia diajak hidup sederhana atau bahkan serba kekurangan namun ketika dimadu hati mereka akan berontak dan inilah penyebab retaknya tali pernikahan suami istri.
5. Faktor Perbedaan Paham
Hal ini bisa diakibatkan oleh latar belakang tingkat pendidikan yang berbeda, atau perbedaan lingkungan sosial budaya misal perbedaan suku dan bangsa. Selain itu berasal dari perbedaan agama dan keyakinan yang dianut. Perbedaan pandangan politik juga bisa menjadi penyebab timbulnya perbedaan paham dan ini sangat membahayakan hubungan suami istri pada ikatan rumah tangga. Untuk itulah harus diperhatikan hadist Rasulullah berikut ini ketika akan memilih pasangan hidup. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda "Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya maka kamu akan selamat" (HR. Bukhari, Muslim).Demikianlah faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya gejolak antara suami istri. Mudah-mudahan bermanfaat bagi siapa saja.
Jangan pernah Menjadikan pertengkaran itu sebagai momen perpisahan di antara kalian..!
Melainkan menjadikan pertengkaran itu sebagai momen yang membuat kalian bisa lebih mengerti dan memahami akan kepribadian pasangan masing-masing...
Tidak mudah memang, namun tidak salah jika kita mulai belajar untuk itu, bukankah kehidupan itu adalah proses belajar,,,?
Dimana kita saling mengenal dan mengerti lebih lanjut tentang pasangan kita masing-masing, untuk membentuk suatu hubungan yang lebih baik lagi di masa mendatang.
Menggabungkan dua orang insan laki-laki dan perempuan dalam satu ikatan pernikahan merupakan hal yang diharapkan berjalan dengan baik tanpa ada konflik-konflik yang terjadi. Tapi itu tidak mudah, setelah mejalin ikatan pernikahan akan terbentuk suatu wadah yang disebut keluarga yang kemudian akan diikuti timbulnya berbagai permasalahan-permasalan yang bisa saja berujung perceraian. Ada begitu banyak faktor yang menyebabkan timbulnya gejolak kehidupan suami istri tapi dalam catatan ini akan disederhanakan menjadi 5 kelompok, yaitu:
1. Faktor Kerusakan Akhlak
Agama memiliki peranan penting dalam membentuk akhlak keluarga baik itu suami maupun istri. Jika suami, istri dan keluarga sudah tidak taat dalam menghayati dan mengamalkan agamanya maka ini adalah titik awal penyebab kerusakan akhlak. Keluarga jenis ini sering meninggalkan apa yang diperintahkan oleh agama tapi justru melanggar apa yang dilarang oleh agama. Semakin sering melanggar larangan agama maka akan semakin rusak akhlak yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Maka berhati-hatilah dalam membina keluarga, selalu jalankan segala yang diperintahkan oleh agama dan hindari apa yang dilarang oleh agama. Perbuatan yang melanggar larangan seperti mengkonsumsi narkoba, main perempuan atau zina, Berjudi, Minum-minuman yang memabukan, mencuri dsb.
2. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi sering dijadikan kambing hitam atas kehancuran rumah tangga, hal ini bisa terjadi karena beberapa hal diantaranya; kurangnya rasa syukur akan rejeki yang sudah diberikan oleh Allah sehingga akan muncul perasaan kurang dengan apa yang sudah diraih dan dimiliki; Cara pemanfaatan yang kurang bijak dan tidak bisa mengatur besarnya penghasilan yang diperoleh dengan pengeluaran yang dilakukan. Seperti kata pepatah 'besar pasak dari pada tiang' dan akan lebih bijak jika menggunakan pepatah 'belanjakanlah sesuai dengan kebutuhan dan jangan sesuai keinginan'. Perilaku seperti ini akan membentuk keluarga yang selalu 'gali lobang tutup lobang' selama membina rumah tangganya; Tidak adanya keterbukaan antara suami dan istri dalam hal penghasilan dan penggunaannya.
3. Faktor Biologis
Ini faktor berikutnya setelah faktor ekonomi yang menjadi faktor terjadinya gejolak rumah tangga. Faktor biologis bisa saja menjadi faktor penyebab gejolak keluarga hal ini bisa saja terjadi karena beberapa hal; salah satu pihak tidak mampu menjalankan kewajibannya dalam hubungan kesuami-istrian; Karena salah satu pihak over seks sehingga pada saat berhubungan kesuami-istrian tidak pernah merasa menemukan kepuasan; Karena tidak mampu memberikan keturunan dan atau tidak dapat melahirkan; Karena perbedaan umur yang mencolok terlalu jauh sehingga salah satunya menjadi minder dan kurang percaya diri.
4. Faktor Pihak Ketiga
Inilah faktor yang sekarang sedang menggejolak di masyarakat Indonesia. Perkembangan teknologi komunikasi membuat hubungan dan komunikasi menjadi lebih mudah. Namun sayang hal ini justru menjadi sarana yang dipergunakan tidak semestinya. Konflik yang terjadi antara suami istri biasanya diawali dari pihak ketiga yang muncul diantara mereka, sehingga menimbulkan cemburu buta. Atau justru masalah ini dipengaruhi pihak ketiga yang merupakan bagian dari keluarga, misal; mertua, ipar, pembantu dan lain sebagainya. Poligami juga menjadikan hubungan suami istri menjadi retak karena pada umunya istri tidak bersedia di poligami. Istri masih bersedia diajak hidup sederhana atau bahkan serba kekurangan namun ketika dimadu hati mereka akan berontak dan inilah penyebab retaknya tali pernikahan suami istri.
5. Faktor Perbedaan Paham
Hal ini bisa diakibatkan oleh latar belakang tingkat pendidikan yang berbeda, atau perbedaan lingkungan sosial budaya misal perbedaan suku dan bangsa. Selain itu berasal dari perbedaan agama dan keyakinan yang dianut. Perbedaan pandangan politik juga bisa menjadi penyebab timbulnya perbedaan paham dan ini sangat membahayakan hubungan suami istri pada ikatan rumah tangga. Untuk itulah harus diperhatikan hadist Rasulullah berikut ini ketika akan memilih pasangan hidup. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda "Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya maka kamu akan selamat" (HR. Bukhari, Muslim).Demikianlah faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya gejolak antara suami istri. Mudah-mudahan bermanfaat bagi siapa saja.
Langganan:
Postingan (Atom)



